Breaking News:

Molnupiravir Segera Dapat Izin Darurat, Seruan Akses Bagi Negara Miskin Pun Muncul

Pil antivirus molnupiravir Merck & Co diprediksi akan segera mendapatkan izin penggunaan daruratnya paling cepat pada Desember.

Handout / Merck & Co,Inc. / AFP
Foto selebaran ini diperoleh 26 Mei 2021, atas izin perusahaan Farmasi Merck, menunjukkan kapsul obat antivirus eksperimental Molnupiravir. Pil antivirus molnupiravir Merck & Co diprediksi akan segera mendapatkan izin penggunaan daruratnya paling cepat pada Desember. 
Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari
TRIBUNNEWS.COM - Rencana untuk peluncuran pil antivirus molnupiravir Merck & Co yang diklaim dapat digunakan untuk pengobatan pasien virus corona (Covid-19) diprediksi akan kembali mengulangi 'ketidakadilan' yang pernah terjadi pada 'pendistribusian vaksin'.
Menurut para ahli kesehatan internasional, langkah ini berpotensi membuat negara-negara dengan kebutuhan terbesar, 'sekali lagi' harus berada pada urutan belakang.
Misalnya, hanya sekitar 5 persen populasi di Afrika yang telah mendapatkan vaksinasi, ini akhirnya menciptakan kebutuhan mendesak terhadap pengobatan terapi yang dapat membuat pasien bisa segera sembuh dan keluar dari rumah sakit.
Angka tersebut sangat kecil jika dibandingkan dengan lebih dari 70 persen tingkat inokulasi yang telah dicapai pada sebagian besar negara kaya atau maju.
Dikutip dari laman Channel News Asia, Senin (18/10/2021), produsen obat Merck & Co pada 11 Oktober lalu telah mengajukan izin darurat untuk pil pertamanya yang akan digunakan pada pasien Covid-19, setelah mengklaim berhasil mengurangi kasus rawat inap dan kematian hingga mencapai 50 persen dalam uji klinis besar yang dilakukannya.
Obat yang dikembangkan bersama Ridgeback Biotherapeutics itu diprediksi akan segera mendapatkan izin penggunaan daruratnya paling cepat pada Desember mendatang.
Perlu diketahui, Merck telah mengambil langkah pandemi yang tidak biasa dengan melisensikan beberapa obat generik molnupiravir antivirusnya, sebelum versi bermereknya bahkan disahkan untuk pemasaran.
Namun pejabat kesehatan internasional mengatakan bahwa obat itu tidak cukup untuk menjangkau banyak orang di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang tentu saja memerlukan dalam jumlah yang cukup besar.
Selain itu, birokrasi diantara organisasi global juga disebut dapat memperlambat proses pendistribusiannya.
Merck pada tahun ini berencana memproduksi 10 juta pil pengobatan yang diminum selama dua kali sehari pada lima hari berturut-turut itu, lalu 20 juta lainnya pada tahun depan.
Selain itu, kesepakatan lisensi dengan 8 produsen obat India akan memungkinkan diproduksinya obat versi generik yang lebih murah untuk 109 negara berpenghasilan rendah dan menengah termasuk di Afrika.
Langkah ini pun diakui oleh kelompok internasional sebagai konsesi positif.
Namun saat negara-negara kaya mendapatkan penawaran pasokan molnupiravir, Amerika Serikat (AS) telah mengamankan kebutuhannya terkait pil ini.
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved