Jumat, 1 Mei 2026

Bacaan Doa

Doa Ketika Melontar Jamrah Ula, Wusta, Aqabah dalam Ibadah Haji

Setelah mabit di Mina, jemaah haji melontar jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebagai simbol penolakan terhadap godaan iblis. Berikut ini doanya.

Tayang:
Tribunnews.com
DOA MELONTAR JAMRAH - Gambar dibuat di Be Funky dan Paint, Kamis (30/4/2026). Setelah mabit di Mina, jemaah haji melontar jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah sebagai simbol penolakan terhadap godaan iblis. Berikut ini doanya. 
Ringkasan Berita:
  • Melontar jamrah adalah ibadah wajib haji dengan melempar kerikil ke tiga jamrah pada 10–13 Dzulhijjah.
  • Hukum melontar jamrah adalah wajib bagi jemaah haji.
  • Ibadah ini memiliki makna simbolis sebagai perlawanan terhadap godaan setan, dengan meneladani Nabi Ibrahim dan keluarganya. Selain itu, mengajarkan kekuatan iman, keikhlasan, dan pentingnya keharmonisan keluarga.

TRIBUNNEWS.COM - Melontar jamrah adalah melontar batu kerikil ke arah jamrah Sughra (Ula), Wustha, dan Kubra dengan niat mengenai objek jamrah (marma) dan kerikil masuk ke dalam lubang marma.

Jemaah haji wajib melontar jamrah, jika tidak melaksanakannya maka dikenakan dam/fidyah.

Melontar jamrah dilakukan pada hari Nahr yaitu pada 10 Dzulhijjah dan hari Tasyriq yaitu 11, 12, 13 Dzulhijjah.

Kementerian Haji dan Umrah menjelaskan ibadah ini harus dilaksanakan secara berurutan mulai dari melontar jamrah Sughra (Ula), Wustha, dan Kubra pada waktu tertentu.

Waktu Melontar Jamrah

Melontar jamrah Aqabah pada 10 Dzulhijjah dapat dilakukan mulai lewat tengah malam.

Namun, waktu yang lebih utama (afdhal) adalah setelah matahari terbit, sebagaimana tuntunan pelaksanaan haji. 

Meski begitu, karena biasanya jumlah jemaah sangat padat pada pagi hari, banyak jemaah dianjurkan melaksanakannya mulai siang hari agar lebih aman dan nyaman.

Sementara itu, untuk melontar jamrah pada hari-hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah, mayoritas ulama berpendapat bahwa pelaksanaannya dimulai setelah matahari tergelincir atau masuk waktu zuhur.

Akan tetapi, dalam mazhab Syafi’i terdapat pendapat dari Imam Rafi’i dan Imam Isnawi yang membolehkan melontar lebih awal, yaitu sejak terbit fajar sebelum waktu zuhur. 

Baca juga: Doa Mabit di Mina agar Meraih Keberkahan Saat Ibadah Haji

Pendapat ini memang dinilai lemah oleh sebagian ulama, tetapi tetap dapat diamalkan dalam kondisi tertentu dan pernah dibahas dalam keputusan Muktamar NU.

Selain itu, lembaga fatwa resmi Mesir, Dar al-Ifta al-Misriyyah, juga memberikan kelonggaran dengan membolehkan lontar jumrah pada hari Tasyrik dimulai sejak pertengahan malam, yaitu di antara waktu magrib hingga terbit fajar.

Perbedaan pendapat ini menunjukkan adanya kemudahan dalam syariat Islam, sehingga jemaah dapat memilih waktu yang paling memungkinkan sesuai kondisi kesehatan, keamanan, dan aturan yang ditetapkan penyelenggara haji.

Tata Cara Melontar Jamrah

  1. Melontar kerikil mengenai marma dan masuk ke lubang
  2. Melontar setiap jamrah dengan 7 kerikil dan setiap kali lontaran satu kerikil. Jika melontar dengan 7 kerikil sekaligus maka dihitung satu lontaran.
  3. Jemaah menggunakan 7 kali lontaran kerikil pada setiap jamrah.
  4. Melontar jamrah dengan urutan mulai dari jamrah Sughra, Wustha, dan Kubra.

Ketika hendak melontar jamrah, jemaah haji dapat membaca doa melontar jumrah.

Mengutip buku Manasik Haji dan Umrah 2026 oleh Kementerian Haji dan Umrah, berikut doa ketika melontar jamrah.

Doa Ketika Melontar Jamrah 

بِسْمِ اللهِ اللَّهُ أَكْبَر

Bismillāh, Allāhu akbar

Artinya: "Dengan Nama Allah, Allah Maha Besar."

Atau membaca

اللَّهُ أَكْبَرْ عَلَى طَاعَةِ الرَّحْمَن،ِ وَرَعْمِ الشَّيْطَانِ اللهم
 تَصْدِيقَاً بِكِتَابِكَ وَاتَّباعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ . اللَّهُمَّ اجْعَلْه
حَجَّا مَبْرُورًا وَذَتْبًا مَغْفُورًا وَعَمَلاً مَشْكُورًا

Allāhu akbar ‘alā ṭā‘atir-raḥmān, wa ragmish-syaithān. Allāhumma taṣdīqan bikitābika wattibā‘an lisunnati nabiyyika. Allāhummaj‘alhu ḥajjan mabrūran wa dzanban maghfūran wa ‘amalan masykūran.

Artinya: "Allah Maha Besar atas ketaatan kepada Allah Yang Maha Pengasih, dan kutukan bagi setan, ya Allah, dengan membenarkan kitab-kitabMu dan mengikuti sunah Nabi-Mu. Jadikanlah ibadah haji ini haji yang mabrur, dosa-dosa terampuni, dan amalan yang diterima."

Doa Setelah Melontar Jamrah

الْحَمْدُ اللَّهِ كَثِيرًا طَيْبًا مُبَارَكًا فِيهِ اللَّهُمَّ لَا أُحْصِيِّ ثَنَاءَ
عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ
وَمِنْ عَذَابِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَ بْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ
فَاقْبَلْ نُسُكِي وَأَعْظِمْ أَجْرِي وَارْحَمْ تَضَ عِي وَاقْبَلْ تَوْبَي
وَأَقِلَ عَتْرَنِي وَاسْتَجِبْ دَعْوَنِي وَأَعْطِنِي سُؤْلِي اللَّهِمَّ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِمَّا وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُجْرِمِين،َ وَأَدْخِلْنَا فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ 

Alḥamdu lillāhi katsīran ṭayyiban mubārakan fīh, Allāhumma lā uḥṣī tsanā’an ‘alayka anta kamā ats-nayta ‘alā nafsik. Allāhumma ilayka afaḍtu wa min ‘adzābika asyfaqt, wa ilayka raghibtu wa minka rahibtu. Faqbal nusukī wa a‘ẓim ajrī warḥam taḍarru‘ī waqbal taubatī wa aqil ‘athratī wastajib da‘watī wa a‘ṭinī su’lī. Allāhumma rabbanā taqabbal minnā wa lā taj‘alnā minal-mujrimīn, wa adkhilnā fī ‘ibādikaṣ-ṣāliḥīn yā arḥamar-rāḥimīn

Artinya: "Segala puji bagi Allah, pujian yang banyak lagi baik dan membawa berkat di dalam-nya. Ya Allah, sekali-kali kami tidak mampu menghitung pujian untuk-Mu, sesuai pujian-Mu atas diri-Mu. Ya Allah, hanya kepada-Mu aku berserah diri, dari siksa-Mu aku mohon belas kasihan, dan terhadap rahmat-Mu aku berharap dan atas azab-Mu aku takut. Terimalah ibadahku, perbesarlah pahalaku, sayangilah kerendahan hatiku, terimalah taubatku, perkecilah kekeliruanku, perkenankanlah permohonanku dan berikanlah permintaanku. Ya Allah kabul-kanlah doa kami, dan jangan Engkau jadikan kami orang-orang yang berdosa, tetapi masukkanlah kami dalam hambaMu yang saleh wahai Tuhan Yang Paling Pengasih."

Hikmah Melontar Jamrah

Melontar jumrah bukan sekadar rangkaian ritual dalam ibadah haji, tetapi memiliki makna yang sangat dalam sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan. 

Ibadah ini berakar dari kisah Nabi Ibrahim yang diuji untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail.

Dalam perjalanan tersebut, iblis berulang kali datang menggoda, baik kepada Nabi Ibrahim, Siti Hajar, maupun Nabi Ismail. Namun, ketiganya tetap teguh dalam iman dan melempar batu kerikil sebagai bentuk penolakan terhadap godaan tersebut.

Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam ritual melontar Jamrah Ula, Wusta, dan Aqabah, sebagai pengingat bahwa godaan setan akan selalu ada dalam kehidupan manusia.

Selain itu, lontar jumrah juga mengajarkan pentingnya kekuatan dan keharmonisan dalam keluarga. Kisah keluarga Nabi Ibrahim menunjukkan bagaimana ayah, ibu, dan anak saling mendukung dalam menghadapi ujian berat.

Nilai ini menjadi pelajaran bahwa keluarga yang solid akan mampu menghadapi berbagai godaan dan cobaan hidup dengan lebih kuat. Semangat ini tercermin dalam setiap takbir dan doa yang diucapkan saat melontar jumrah.

Lebih jauh, lontar jumrah mengandung pesan tentang keikhlasan dan kesungguhan dalam melawan sifat-sifat buruk dalam diri.

Lemparan kerikil yang dilakukan berulang kali melambangkan usaha terus-menerus untuk menyingkirkan sifat-sifat negatif dan godaan setan.

Proses ini harus dilakukan dengan niat yang kuat, penuh kesadaran, dan tidak boleh setengah hati, agar benar-benar tepat sasaran dalam membersihkan diri dari keburukan.

Pada akhirnya, hikmah terbesar dari lontar jumrah adalah mengajarkan bahwa hanya dengan keikhlasan seseorang dapat terlindung dari godaan setan.

Keteladanan Nabi Ibrahim dan keluarganya menunjukkan bahwa ketaatan yang tulus kepada Allah SWT mampu mengalahkan segala ujian, seberat apa pun itu.

Oleh karena itu, melontar jumrah menjadi simbol penting bagi umat Islam untuk terus menjaga iman, melawan godaan, dan memperkuat ketaatan dalam kehidupan sehari-hari.

(Tribunnews.com/Yunita Rahmayanti)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved