Senin, 11 Mei 2026

Ibadah Haji 2026

Kemenhaj Minta Jemaah Tak Memaksakan Diri Jelang Puncak Haji yang Butuhkan Banyak Energi

Jemaah tidak perlu memaksakan diri karena puncak haji membutuhkan energi dan kondisi fisik yang prima.

Tayang:
Penulis: Fahdi Fahlevi
Editor: Hasanudin Aco
Media Center Haji 2026/Sri Juliati
JEMAAH HAJI INDONESIA - Foto jemaah haji Indonesia berjalan menuju Terminal Bus Syib Amir dari Masjidil Haram setelah melaksanakan umrah wajib, Jumat (1/5/2026). (Media Center Haji 2026) 

Ringkasan Berita:
  • Kementerian Haji mengimbau jemaah haji Indonesia mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji.
  • Jemaah diharapkan menghemat tenaga, mengurangi aktivitas di luar hotel saat siang hari, serta menjaga kesehatan di tengah suhu Makkah dan Madinahyang mencapai 38–42 derajat Celsius.
  • Jemahaan haji diminta mengutamakan ibadah wajib, cukup istirahat, makan teratur, dan banyak minum air putih.

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Juru Bicara Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) Maria Assegaff mengimbau jemaah haji Indonesia mulai fokus mempersiapkan diri menghadapi fase puncak ibadah haji.

Jemaah, menurut Maria, tidak perlu memaksakan diri karena puncak haji membutuhkan energi dan kondisi fisik yang prima.

"Memasuki masa menjelang puncak haji, kami akan terus mengimbau seluruh jemaah untuk mulai benar-benar fokus pada persiapan ibadah," kata Maria dalam konferensi pers virtual, Senin (11/5/2026).

Menurut Maria, puncak haji membutuhkan kesiapan menyeluruh, mulai dari fisik, mental, spiritual, hingga kedisiplinan dalam mengikuti arahan petugas.

Dirinya meminta jemaah mulai menghemat tenaga sejak dini dan mengurangi aktivitas yang tidak mendesak, terutama di luar hotel pada siang hari.

"Jangan memaksakan diri kemudian melakukan aktivitas-aktivitas yang tidak mendesak, terutama aktivitas di luar hotel pada siang hari," ujarnya.

Maria mengatakan suhu di Makkah dan Madinah saat ini berkisar antara 38 hingga 42 derajat Celsius.

Kondisi cuaca panas tersebut membuat jemaah perlu lebih bijak dalam mengatur aktivitas selama di Tanah Suci.

Ia mengingatkan jemaah untuk memprioritaskan ibadah wajib, memperbanyak istirahat, makan tepat waktu, dan menjaga kecukupan cairan tubuh.

"Utamakan ibadah wajib, sekali lagi utamakan ibadah wajib, perbanyak istirahat, makan tepat waktu, dan tentunya cukup minum air putih," katanya.

Selain itu, jemaah juga diminta selalu menggunakan alas kaki, membawa identitas diri, serta memakai pelindung seperti payung atau topi saat beraktivitas di luar ruangan.

Khusus bagi jemaah lansia, penyandang disabilitas, dan jemaah dengan penyakit penyerta atau risiko tinggi, Maria meminta agar rutin berkoordinasi dengan petugas kesehatan maupun ketua rombongan apabila mengalami gangguan kesehatan.

"Karena kesehatan itu merupakan modal utama menuju puncak haji. Jangan menunggu kondisi memburuk. Segera sampaikan keluhan kepada petugas agar dapat ditangani sejak awal," ujarnya.

Ia kembali menegaskan agar jemaah tidak memaksakan diri selama menjelang puncak haji.

"Jadi sekali lagi, kami mengimbau jemaah untuk tidak memaksakan diri karena fase puncak haji membutuhkan energi besar. Karena itu, gunakan waktu yang ada untuk menjaga stamina, memperkuat niat, memperbanyak doa, dan mempersiapkan diri dengan baik," katanya.

Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia telah mengeluarkan edaran terkait pengaturan pergerakan jemaah sebagai langkah mitigasi menghadapi kepadatan dan risiko kesehatan menjelang fase Armuzna atau puncak haji.

Edaran tersebut mengatur aktivitas jemaah mulai dari pergerakan hotel ke Masjidil Haram, perjalanan dari Madinah menuju Makkah, hingga persiapan menuju Armuzna.

 

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved