Selasa, 2 Juni 2026

Haji 2026

Dua Ciri Haji Mabrur, Musyrif Diny: Tinggalkan Keburukan dan Perbanyak Kebaikan

Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku setelah berhaji, yaitu meninggalkan keburukan dan konsisten melakukan kebaikan.

Tayang:
Penulis: Lanny Latifah
Editor: Febri Prasetyo
Tribunnews.com
SUASANA MASJIDIL HARAM - Jemaah haji memadati area tawaf, Makkah, Jumat (1/5/2026). Haji mabrur ditandai dengan perubahan perilaku setelah berhaji, yaitu meninggalkan keburukan dan konsisten melakukan kebaikan yang tercermin dalam kehidupan sosial sehari-hari. 

"Tandanya dapat dilihat oleh orang lain, seiring dengan perubahan pra dan pasca-haji. Jika biasanya malas, kemudian setelah haji menjadi lebih rajin dan hal itu bersifat konstan serta berkelanjutan, maka tanda-tanda kemabruran itu ada," ujarnya.

Dua Ciri Utama Haji Mabrur

Dalam penjelasannya, beliau menyebutkan setidaknya ada dua aspek utama yang menjadi penanda haji mabrur.

1. Komitmen Meninggalkan Keburukan

Ciri pertama adalah adanya komitmen kuat untuk meninggalkan perbuatan buruk yang sebelumnya dilakukan.

Setelah melaksanakan ibadah haji, seseorang diharapkan mampu berhenti dari kebiasaan negatif dan tidak kembali pada perilaku yang tidak baik.

Perubahan ini menjadi indikator penting bahwa ibadah haji memberikan dampak spiritual yang nyata dalam kehidupan seseorang.

"Yang pertama adalah komitmen untuk meninggalkan keburukan. Komitmen untuk meninggalkan apa yang biasa dia lakukan padahal itu buruk," sebutnya.

2. Komitmen Melakukan Kebaikan (Al-Ihsan)

Ciri kedua adalah adanya dorongan kuat untuk berbuat baik atau al-ihsan.

"Kemudian yang kedua ada al-ihsan, yakni komitmen untuk berbuat baik," ungkapnya.

Artinya, seorang haji mabrur tidak hanya berhenti dari keburukan, tetapi juga aktif melakukan kebaikan dalam kehidupan sosialnya.

Hal ini menunjukkan bahwa ibadah haji bukan hanya pengalaman spiritual personal, tetapi juga harus tercermin dalam hubungan sosial dan kontribusi kepada masyarakat.

Baca juga: Doa Agar Menjadi Haji Mabrur, Ikhtiar Meraih Haji yang Diterima Allah SWT

Lebih lanjut, Prof. Asrorun Ni’am menegaskan bahwa haji merupakan ibadah yang bersifat personal dan spiritual, namun dampaknya harus terlihat dalam kehidupan sosial.

Ukuran keberhasilan ibadah tidak hanya dilihat dari pelaksanaan ritual, tetapi juga dari perubahan perilaku dan kontribusi sosial setelahnya.

Prinsip ini juga berlaku pada ibadah lain seperti sholat, puasa, dan zakat, yang semuanya diharapkan mampu membentuk karakter dan kepedulian sosial.

Sesuai Minatmu
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved