Kamis, 11 Juni 2026

Masjid Night Club di Spanyol

Video La Meca: Bikini dan Pesta di Diskotek Masjid

La Meca tampaknya sudah heboh sejak pertengahan 2010. Salah satu video di Youtube memperlihatkan tanggal 19 Juni 2010.

Tayang:
Editor: Dahlan Dahi

Karena saat ini mereka menjadi target ekstrimis muslim yang mengklaim diskotek tersebut telah menghina agama islam.

Kemudian Santiago Canizares pun setuju untuk mengganti nama klub malam miliknya setelah  bertemu dengan para pemimpin Muslim di Spanyol.

Sebelumnya badan intelijen Spanyol, National Intelligence Centre , memperingatkan para pemilik atas ancaman yang dilakukan secara online yang dilakukan umat muslim moderat spanyol yang meminta supaya nama klub malam tersebut dirubah.

Kepala Federasi Entitas Agama Islam Spanyol Mohamed Ali, mengatakan bahawa mekah merupakan tempat orang mulim berdoa, dan tempat Nabi Muhammad menerima kitab suci Al-quran.

“Menggunakan nama La Meca untuk memanggil tempat yang digunakan untuk menari dan minum, itu mengabaikan perasaan umat Islam ,” katanya. Lanjutnya, “Padahal umat Islam selalu peka terhadap perasaan non-Muslim,” ujarnya.

Dikecam

Keberadaan Diskotik La Meca di Kota Aguilas, Provinsi Murcia, Spanyol, terus mendapat kecaman dari umat Islam Spanyol. Kecaman kali ini datang dari Ketua Federasi Kelompok Muslim di Spanyol, Mohamed Ali.

Ia mengungkapkan, pemilik diskotik tersebut seakan ingin menghina umat Islam dengan memberi nama diskotiknya seperti itu. La Meca bagi umat Islam Spanyol berarti Makkah.      

"Umat Islam shalat menghadap ke Ka'bah di Makkah dan di sanalah Nabi Muhammad SAW menerima Alquran yang suci. Sementara diskotik itu tempat untuk minum-minum dan joget-joget. Nama diskotik itu seakan ingin mengabaikan perasaan umat Islam,'' kecam Mohamed Ali, seperti ditulis Andalus Press.

Mohamed Ali kembali mengingatkan bahwa Makkah adalah daerah paling disucikan umat Islam dari penjuru dunia.

Nama Makkah juga dikecam keras seorang pria keturunan Maroko yang bekerja di diskotik tersebut ketika mengetahui nama tempat hiburan itu sudah diganti menjadi Makkah.

"Diskotik adalah tempat untuk mencari kesenangan duniawi dan apa yang terjadi di dalamnya, seperti minum alkohol, tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam,'' tegas pendiri Komite Arbitrase Muslim dan Perbuatan Baik, Antonio García Petite.

Petite mengatakan, nama Makkah biasanya digunakan secara komersial untuk merujuk ke pusat atau tujuan dari suatu aktivitas tertentu.

"Ungkapan-ungkapan seperti 'Makkah sinema' dan 'Makkah Jazz' ... dan lain lain yang umumnya digunakan tanpa pelanggaran apa pun," katanya mencontohkan.

Namun, Petite menambahkan, nama Makkah tidak patut digunakan untuk diskotek. Karena itu pula, dia mendukung sikap pekerja Muslim di diskotik itu yang menolak melanjutkan bekerja.

Halaman 2/3
Tags
Spanyol
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved