Rabu, 20 Mei 2026

Abu Farrah, Saksi Kekejaman AS terhadap Aljazeera

Hillary tentu saja melihat bagaimana stasiun televisi yang sangat berpengaruh di Arab itu ikut mendorong revolusi Arab

Tayang:
Penulis: Dahlan Dahi

Jasim bercerita, sambil menunjukkan ceceran darah Tariq Ayoub di lantai yang sudah mengering, mula-mula AS mengebom sebuah bangunan kecil sekitar dua meter dari bangunan utama kantor Al Jazeera. Bangunan mirip WC itu adalah pusat generator. Begitu digempur, lampu padam total. Seketika, Tariq Ayub, yang sudah sekarat, tak bisa lagi mengirimkan laporan-laporan live ke kantor pusatnya di Qatar.

AS belum puas dengan hanya melumpuhkan aliran listrik. Dinding-dinding kantor Al Jazeera penuh lubang-lubang besar bekas tembakan. Salah satu tembakan mengenai bagian perut Tariq Ayoub. Jurnalis ayah satu putri itu mengerang kesakitan, dan mati. Ia terlahir 34 tahun lalu dan mati menjadi saksi kekejaman tentara AS.

Amerika membela diri dengan menyebut penyerangan membabi buta itu sebagai kecelakan. Namun, Jasim dan kru Al Jazeera lainnya sulit mempercayai bualan Petagong. Masalahnya, di sekitar kantor Al Jazeera sama sekali tidak ada target militer yang sah seperti bangunan pemerintah, istana Saddam, pusat telekomunikasi, atau instalasi militer.

Sebelum kantornya dibom, mobil Al Jazeera diberondong tembakan. Sopirnya luka-luka. Beberapa hari setelah Ayub pergi, mobil warna biru itu masih nampak di depan kantor. Beberapa lubang bekas tembakan tampak di kaca depannya.

Stasiun Al Jazeera juga digempur pasukan AS pada perang Afganistan tahun 2001. Stasiun itu, yang disebut juga sebagai CNN-nya Arab, merupakan penyebar berita yang dianggap memiliki kredibilitas tinggi di tanah Arab.

* Reportase ini dan laporan lainnya dari Irak dan negara-negara Arab bisa disimak di dahlandahi.blogspot.com

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved