Nasib Perawat Indonesia di Kuwait
Kedubes Kuwait Tunggu Surat Revisi Pemerintah Indonesia
Delegasi perawat Kuwait diwakili Zulkfili Abdullah, Ketua Regional Indonesian National Nurses Association in Kuwait (INNA-K)
"Alhamdullilah saya bertemu dengan pihak kedutaan yang diwakili seorang diplomat," kata Zulkifli saat dihubungi Tribunnews.com.
Karena Kedubes Kuwait Faisal Sulaiman Ali Al Musaileem saat ini sedang berada di negaranya, maka Zulkifli diterima oleh seorang diplomat bernama Khalid.
Zulkfli menuturkan, pertemuan yang berlangsung dari pukul 14.00-14.30 WIB itu membahas mengenai beberapa hal termasuk surat revisi dari Pemerintah Indonesia terkait lembaga pendidikan tempat para perawat menuntut ilmu yang dianggap tidak terakreditasi.
"Secara umum, pihak Kedubes Kuwait hanya menunggu surat revisi dari pemerintah Indonesia. Mereka mengatakan tidak mencampuri soal internal Indonesia," ujar Zulkifli, lagi.
Sedianya, surat itu harusnya dikirimkan oleh pemerintah Indonesia, Rabu (27/4/2011) ini. "Mereka (pihak kedutaan Kuwait) masih menunggu," jelas Zulkifli.
Lima perawat Indonesia di Kuwait diterminasi karena dianggap ijazah yang dimiliki tak terakreditasi. Padahal, seorang perawat bernama Erpan Nurjamal Al Ismail, ijazahnya berasal dari lembaga pendidikan akper terakreditasi dan dibawahi Depkes. Sayangnya, akper itu kemudian berubah menjadi sekolah tinggi ilmu kesehatan (Stikes) dan informasi inilah yang terkirim ke Kuwait karena Stikes sudah tak dibawahi Depkes melainkan Dikti.
Senin, awal pekan ini, berlangsung pertemuan INNA-K dan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI yang diwakili langsung Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Sejumlah poin penting berhasil disepakati antara lain memberikan nota diplomati kepada lima perawat Indonesia di Kuwait yang diterminasi karena dianggap ijazah yang dimiliki tak terakreditasi.