Rabu, 8 April 2026

Unjuk rasa menentang anjloknya mata uang Iran

Bentrokan terjadi di ibukota Iran, Teheran, antara polisi dengan pengunjuk rasa sehubungan dengan anjloknya nilai mata uang rial.

Rial Iran

Nilai mata uang rial Iran terhadap dolar turun sampai 80% dibanding tahun lalu.

Bentrokan terjadi di ibukota Iran, Teheran, antara polisi dengan pengunjuk rasa sehubungan dengan anjloknya nilai mata uang rial, Rabu 3 Oktober.

Gas air mata ditembakkan untuk membubarkan pengunjuk rasa dan laporan-laporan menyebutkan sejumlah orang ditangkap.

Saksi mata mengatakan kepada BBC bahwa sekitar 100 pengunjuk rasa berkumpul di depan bank sentral dan sebagian besar merupakan para pedagang maupun pemberi kredit resmi.

Laporan-laporan menyebutkan ada pengunjuk rasa yang membakar ban mobil maupun tempat sampah, sementara sejumlah toko di kawasan perdagangan yang terkenal -yang disebut Pasar Besar- menutup jendelanya untuk menyatakan dukungan kepada para pengunjuk rasa.

Wartawan BBC Seksi Bahasa Farsi, Amir Paivar, melaporkan unjuk rasa ditujukan kepada pemerintahan Presiden Mahmoud Ahmadinejad yang dituduh tidak mampu mengatasi krisis mata uang.

Nilai mata uang rial mencapai rekor terendah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa hari belakangan.

Hari Selasa (02/10) rial Iran diperdagangkan pada tingkat 35.000 hingga 37.000 untuk satu dolar Amerika Serikat atau turun lebih dari 80% dibanding nilai tahun lalu.

Pedagang uang dirazia

Presiden Mahmoud Ahmadinejad

Presiden Ahmadinejad menuding negara Barat sebagai penyebab krisis mata uang.

Ketua Asosiasi Pedagang di Pasar Besar, Ahmad Karimi-Esfahani, menegaskan banyak toko yang tutup karena kekhawatiran akan masalah keamanan dan akan buka kembali pada hari Kamis (04/10).

Kantor berita AP melaporkan polisi dikerahkan untuk meminta para pedagang membuka toko seperti biasa dan merazia para pedagang mata uang di jalanan sebagai upaya untuk mencegah terus menurunnya nilai rial.

Seorang perwira polisi mengatakan kepada kantor berita tenaga kerja Iran, ILNA, hanya sebagian kecil orang saja yang melakukan aksi unjuk rasa dan menegaskan pasar tidak ditutup.

Presiden Ahmadinejad menuding negara-negara Barat yang menerapkan sanksi kepada Iran sebagai penyebab dari anjloknya nilai mata uang rial namun banyak warga Iran yang menuding hal tersebut mencerminkan ketidakmampuan pemerintahnya.

Sementara para pejabat Amerika Serikat mengatakan menurunnya nilai mata uang rial Iran memperlihatkan keberhasilan sanksi ekonomi atas Iran sehubungan dengan progam nuklirnya.

Sumber: BBC Indonesia
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved