Keuangan Nishikawa Gomu Kogyo Tertekan Biaya Pembangunan di Indonesia
Pengeluaran sangat banyak dilakukan di Indonesia karena baru mengoperasionalkan pabriknya setahun belakangan ini.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Nishikawa Gomu Kogyo (NGK), atau Nishikawa Rubber Co.Ltd, perusahaan suku cadang kendaraan bermotor khusus pembuatan karet yang cukup besar di Jepang pendapatannya sangat tertekan, bahkan pendapatan operasional berkurang sekitar 50 persen. Hal ini disebabkan karena tekanan biaya yang dikeluarkan dari operasional beberapa negara termasuk dari banyaknya biaya yang harus dikeluarkan dalam pembangunan pabriknya serta
pengoperasian awal pabriknya di Indonesia.
"Kami memang banyak sekali penurunan pendapatan saat ini karena banyak tekanan dari biaya operasional yang sangat besar dari beberapa negara termasuk dari Indonesia," ungkap seorang eksekutif di kantor pusat khusus kepada Tribunnews.com baru-baru ini.
Menurutnya, pengeluaran sangat banyak dilakukan di Indonesia karena baru mengoperasionalkan pabriknya setahun belakangan ini. Pabrik NGK di Indonesia dengan nama PT Nishikawa Karya Indonesia (NKI) di Jatinangor Sumedang, dengan Presiden nya saat ini Toshiyuki Masuki.
Pabrik tersebut (NKI) berdiri November 2012 dengan modal 16 juta dolar AS di mana 80 persse sahamnya dikuasai NGK dan 20 persen dipegang PT Karya Putra Sangkuriang. Produksi massalnya baru berjalan Januari 2014 lalu dan Desember 2014 lalu berhasil memperoleh sertifikat ISO-9001 dan ISO-14001 untuk produksi Extruded Rubber. Jumlah karyawan sekitar 195 orang dengan empat orang warga Jepang bekerja di sana termasuk CEO Masuki yang merangkap juga sebagai Direktur Sumber Daya Manusia.
Luas tanah yang dibelinya sebesar 36.000 meter persegi dan luas bangunannya seluas 8.000 meter persegi.
"Karena banyak sekali pengeluaran dari Indonesia, kami berusaha semaksimal mungkin kerja agar penghasilan operasional di Indonesia bisa menutupi cost yang ada, sehingga neraca keuangan menjadi baik dalam waktu dekat ini," tambahnya.
Selain tekanan biaya dari Indonesia juga tekanan biaya operasional yang tinggi dari Meksiko dan Amerika Serikat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/pabrik-pt-nishikawa-karya-indonesia_20150220_084226.jpg)