Jaringan Kelompok ISIS
Ini yang Bikin Menlu Australia Bingung, Mengapa Makin Banyak Anak Muda Negerinya Gabung ISIS?
Sejumlah besar perempuan Australia dikhawatirkan dalam perjalanan menuju Irak dan Suriah untuk menjadi ”pengantin jihad” kelompok ISIS?
TRIBUNNEWS.COM - Sejumlah besar perempuan Australia dikhawatirkan dalam perjalanan menuju Irak dan Suriah untuk menjadi ”pengantin jihad” kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah alias ISIS.
Sebanyak 30-40 perempuan diperkirakan telah bergabung di sana atau mendukung secara aktif dari Australia.
Hal itu diungkapkan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop, Kamis (26/2), di depan parlemen Australia. Ia memperingatkan warga Australia untuk menghentikan gagasan atau mimpi ”perjalanan romantis” itu.
Sedikitnya 110 warga Australia telah meninggalkan negara itu. Sebagian besar adalah perempuan muda yang siap menjadi pengantin jihad bagi kelompok radikal Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) alias ISIS, baik yang sedang bergerilya di Irak maupun Suriah.
”Amat disayangkan, kita melihat sekelompok orang muda yang ingin bergabung dengan konflik di Suriah dan Irak. Jumlah perempuan muda itu kian meningkat,” kata Bishop yang juga menyikapi kasus paling heboh tentang tiga remaja Inggris yang pergi ke Suriah untuk bergabung dengan NIIS.
Tiga remaja perempuan Inggris itu adalah Shamima Begum (15), Amira Abase (15), dan Kadiza Sultana (16). Ketiga remaja itu diketahui menyeberangi perbatasan Suriah dari Turki untuk bergabung dengan NIIS.
”Hal ini bertentangan dengan logika. Keluarga dan para sahabat agar menjangkau anak-anak muda yang berisiko sebelum terlambat,” ujar Bishop sambil menyebut kasus Amira Karroum.
Karroum (22) meninggalkan rumahnya di Sydney sebelum Natal tahun lalu. Belakangan diketahui, ia tewas dalam pertempuran di Suriah.
Beberapa alasan
Hal yang menarik, kata Bishop, banyak perempuan muda pergi ke daerah konflik di Timur Tengah karena beberapa alasan. Ada yang tertarik kepada pria teroris asing yang sedang bertempur di sana, pergi bersama pasangannya, atau mencari suami di sana.
Hal ini sebagian besar karena pengaruh media sosial yang mengajak mereka untuk menemukan pasangan di Suriah dan Irak.
Jumlah perempuan warga negara asing yang bergabung dengan NIIS, baik di Suriah maupun Irak, diperkirakan mencapai seperlima dari total anggota NIIS asal mancanegara. Ia memperingatkan, mereka bakal menghadapi rezim brutal yang amat mengancam kaum perempuan.
”(Kelompok) Ini adalah organisasi teroris yang memiliki rekam jejak g amat mengerikan ketika mereka menghadapi perempuan,” kata Bishop kepada radio ABC.
”Pembunuhan dan eksekusi seakan belum cukup bagi NIIS. Mereka benar-benar memiliki instruksi daring tentang memperlakukan budak seks, termasuk memerkosa dan memukuli perempuan. Mereka juga melakukan kekerasan seksual kepada anak-anak (perempuan), bahkan yang belum mencapai pubertas,” lanjutnya.
”Sikap mereka terhadap perempuan benar-benar mengerikan. Perempuan muda jangan lekas percaya bahwa ada beberapa petualangan romantis penting untuk mendukung Daesh (nama lain NIIS) dan organisasi teroris serupa,” ujarnya.
550 perempuan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/isis-penggal-21-orang_20150216_054843.jpg)