Wisata Jepang
Nebuta Matsuri di Jepang Dihadiri Jutaan pengunjung
Salah satu festival sangat ramai bisa dihadiri jutaan pengunjung di daerah Tohoku (utara Jepang) adalah Nebuta Matsuri.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Musim panas di Jepang banyak sekali festival (Matsuri) di mana-mana. Salah satu festival sangat ramai bisa dihadiri jutaan pengunjung di daerah Tohoku (utara Jepang) adalah Nebuta Matsuri. Terkenal di Perfektur Aomori. Khususnya Kamis (30/7/2015) malam di Kota Kuroishi dan Inakadate diselenggarakan Nebuta Matsuri yang sangat semarak sebagai tahap awal.
Lampu dinyalakan dari taman tengah kota bernama Miyuki koen. Arak-arakan diiringi oleh teriakan keberanian banyak anak muda "Yare Yareya," menambah semarak festival tersebut. Acara festival ini di kota tersebut sudah 60 tahun diselenggarakan dan tanggal 2 Agustus besok juga akan dilakukan sekali lagi supaya kota semakin ramai pengunjung wisatawan dalam dan luar negeri.
"Wah luar biasa cantiknya lukisan di arak-arakan tersebut, ditambah lampu penerang di dalamnya, senang sekali saya bisa datang ke sini," kata Asako Tanaka dari Tokyo yang datang khusus melihat festival tersebut kepada Tribunnews.com, Kamis (30/7/2015).
Nebuta adalah festival musim panas biasanya dari 2 Agustus hingga 7 Agustus di Kota Aomori, Perfektur Aomori. Kali ini sebagai tahap pemanas dilakukan 30 Juli kemarin.
Festival ini termasuk salah satu acara memeriahkan Tanabata (7 Juli) yang dilakukan di wilayah Tohoku. Nebuta adalah lentera ukuran raksasa yang dibuat dari kerangka kayu berlapis washi yang umumnya berbentuk boneka pameran kabuki atau hewan. Nebuta diusung dengan kendaraan hias untuk berpawai di jalan-jalan.
Festival ini setiap tahunnya diikuti lebih dari 3 juta peserta dan wisatawan. Bersama-sama dengan Tanabata di Sendai, dan Kantō di Akita, Aomori Nebuta adalah salah satu dari tiga festival terbesar di wilayah Tohoku. Dua festival nebuta terbesar di Perfektur Aomori adalah Aomori Nebuta dan Hirosaki Neputa. Aomori Nebuta berawal dari tradisi menghanyutkan lentera kertas pada malam Tanabata. Boneka Nebuta yang dihanyutkan di sungai atau laut termasuk tradisi menghalau nasib buruk pada malam Tanabata.
Sekitar 270-290 tahun yang lalu (era Kyoho 1716-1735) di dekat Kota Aburagawa dilangsungkan festival lentera yang mirip dengan Hirosaki Nebuta. Peserta waktu itu mengusung lentera sambil menari di jalan-jalan. Pemandangan festival lentera waktu itu mungkin mirip dengan Gion Matsuri di Kyoto.
Nebuta berbentuk lentera raksasa yang menggambarkan tokoh-tokoh dalam kabuki muncul sekitar puncak keemasan seni rakyat biasa pada era Bunka (1804-1817).
Sejarawan daerah Takeo Matsuno menulis tentang festival nebuta di surat kabar To-o Nippo edisi Agustus 1966. Dalam tulisan tersebut dikisahkan tentang pengamat budaya zaman Edo bernama Gobutsu Kokkeisha menulis tentang pemandangan festival Tanabata di Kota Noshiro, Perfektur Akita pada tahun 1843.
Dalam buku Oku no Shiori dikisahkannya tentang boneka-boneka kertas yang yang antara lain menggambarkan Kaisar Jingu dan Kato Kiyomasa dalam ekspedisi penaklukan Korea.
Boneka-boneka kertas tersebut tingginya sekitar 10 m dan lebar 6 m, dan diarak di atas kendaraan beroda. Di dalam boneka-boneka kertas dipasang lilin.
Nebuta diarak-arak oleh orang yang menari-nari dengan iringan genta, taiko, dan terompet kulit kerang. Pemandangan aneh tersebut dikatakannya juga ada di Hirosaki dan Kuroishi.
Ciri khas festival ini adalah orang yang menari beramai-ramai sewaktu berpawai bersama nebuta. Tari khas Festival Nebuta disebut haneto dengan gerakan kaki seperti melonjak-lonjak atau berjingkrak. Tidak diketahui secara pasti asal mula istilah haneto dipakai untuk menyebut cara menari festival nebuta, namun istilah ini sudah dipakai dalam naskah asal tahun 1772-1781.
Penari juga disebut haneto dan mengenakan kostum yang juga disebut haneto. Kostum penari berupa yukata dari kain katun, dilengkapi tutup kepala (hanagasa) berhias bunga-bunga, kain pundak (tasuki) berwarna cerah (merah, merah jambu) pengikat lengan yukata, dan ikat pinggang kain (shigoki) untuk menggantungkan mangkuk minum (gagashiko) dari kaleng.
Di bawah yukata dikenakan kain pinggang (okoshi) berwarna merah jambu untuk wanita (biru untuk pria) yang menutup pinggang hingga lutut. Alas kaki adalah tabi berwarna putih dan zori (alas kaki yang dipakai orang Jepang hingga dikenalnya sepatu pada zaman Meiji).
Penonton diharapkan untuk ikut menari. Kostum haneto dapat dibeli di toko serba ada atau dipinjam di toko peminjaman kostum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/perkelahian-para-anggota-yakuza-jepang-saat-sanja-matsuri_1_20150731_111425.jpg)