Iran Vs Amerika Memanas
Iran Hampir Bombardir Israel dengan Rudal, Lantaran Ngeyel Terus Serang Lebanon
Iran mengaku nyaris meluncurkan rudal ke Israel sebagai respons atas serangan di Lebanon.
Ringkasan Berita:
- Iran hampir meluncurkan rudal ke Israel, namun ditunda setelah intervensi Pakistan.
- Negosiasi dengan AS terancam batal jika serangan di Lebanon tidak dihentikan dan klausul perjanjian terus dilanggar.
- Iran menegaskan Lebanon adalah syarat mutlak dalam gencatan senjata dan siap merespons jika agresi terhadap Hizbullah berlanjut.
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat tajam setelah Iran mengungkapkan bahwa mereka hampir meluncurkan serangan rudal ke Israel.
Rencana tersebut disebut sebagai respons langsung atas serangan Israel yang terus berlanjut di Lebanon.
Pengungkapan ini disampaikan oleh Ahmad Naderi, anggota Komite Ketua Majelis Konsultatif Islam Iran.
Ia menyatakan bahwa peluncuran rudal sempat direncanakan sehari sebelumnya, namun akhirnya ditunda setelah adanya intervensi dari Pakistan.
Menurut Naderi, pihak Pakistan meminta agar Iran memberi ruang bagi jalur diplomasi untuk berjalan.
Permintaan tersebut direspons dengan menunda aksi militer, meskipun situasi di lapangan masih sangat tegang.
Di sisi lain, Iran juga mengeluarkan peringatan keras terkait masa depan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS).
Naderi menyebut bahwa AS dan entitas Zionis telah melanggar tiga klausul dalam perjanjian gencatan senjata yang ada, mengutip Al Mayadeen, Jumat (10/4/2026).
Ia menegaskan bahwa jika pelanggaran tersebut terus berlanjut, maka tidak akan ada lagi negosiasi.
Baca juga: Iran Kenakan Tarif Kapal di Selat Hormuz, Trump: Iran Langgar Perjanjian
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keikutsertaan Iran dalam pembicaraan apa pun sepenuhnya bergantung pada dimasukkannya Lebanon sebagai bagian utama dalam kesepakatan gencatan senjata.
Tanpa itu, Iran menilai proses diplomasi tidak memiliki arti strategis.
“Iran tidak akan terlibat dalam negosiasi jika Lebanon dan gencatan senjata tidak menjadi bagian mendasar,” tegasnya.
Naderi juga menyoroti hubungan erat antara Iran dengan Hizbullah dan Lebanon. Ia menyatakan bahwa keduanya merupakan bagian integral dari kepentingan Iran di kawasan.
Oleh karena itu, setiap serangan terhadap Hizbullah akan dianggap sebagai ancaman langsung yang dapat memicu respons lebih luas.