Bagus Prasetyo Wakili Indonesia di Pacific Rim International Camp 2015 Jepang
Pelajar SMA Negeri 1 Sidoarjo, Bagus Prasetyo Santosa (17), berhasil terpilih mewakili Indonesia pada Pacific Rim International Camp 2015.
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pelajar SMA Negeri 1 Sidoarjo, Bagus Prasetyo Santosa (17), berhasil terpilih mewakili Indonesia pada Pacific Rim International Camp (PRIC) 2015. Padahal semula ikut hanya iseng-iseng saja dengan kemampuan bahasa Inggris yang dimilikinya.
"Ini sudah kedua kalinya saya lolos ke Jepang. Pertama kali saya ke Jepang dalam acara Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youths (JENESYS) pada Desember 2014. Sejauh ini, saya selalu senang dengan situasi di Jepang, orangnya ramah, lingkungannya pun nyaman," kata Bagus khusus kepada Tribunnews.com, pekan lalu yang akan kembali ke Indonesia 19 Agustus mendatang.
Keberangkatan ke Jepang sejak 4 Agustus lalu tentu membuat bahagia orangtuanya.
"Sekolah mendukung sekali baik secara moral ataupun materiil. Begitu pula dengan orang tua tentu bahagia," lanjutnya.
Bagus mengetahui ada kegiatan summer camp dari pesan broadcast yang dikirim temannya.
"Bermodal iseng-iseng daftar, eh tahunya lolos seleksi-seleksi yang diadakan," katanya.
Kunjungannya ke Jepang menurutnya banyak yang bisa dipelajari.
"Mungkin dimulai dari hal terkecil seperti menanamkan sifat disiplin dan peduli. Mereka pun melayani dengan sangat baik. Mereka akan membantu kita walaupun terdapat beberapa kesulitan seperti kesulitan bahasa, dan sebagainya, tetapi mereka tetap membantu kita."
Bagus bergabung dalam klub debat bahasa Inggris di sekolah.
"Hobi saya berdebat, membaca berita, dan berinteraksi dengan orang. Saya bercita-cita ingin bekerja di luar negeri, entah sebagai international lawyer atau ambassador. Saya ingin kuliah di Fakultas Hukum atau Hubungan Internasional," kata Bagus mengenai cita-citanya.
Salah satu upaya Bagus membawa oleh-oleh dari Jepang dengan menggalakkan aksi peduli lingkungan, seperti pemilahan sampah.
"Orang Jepang sangat sensitif dalam memilah sampah, dan saya coba terapkan itu baik di rumah ataupun sekolah.
Selain itu, juga mengenai disiplin waktu. Saya mengajak teman-teman saya untuk lebih disiplin dan menghargai waktu. Tak lupa, budaya orang Jepang, "make it like before you use it". Mereka terbiasa dengan istilah self-service. Jadi setelah mereka menggunakan, mereka tidak segan untuk membersihkan seperti sebelumnya," kata Bagus.
Kunjungannya ke Jepang semua biaya ditanggung dari Panitia Approval NPO Pacific Rim International Camp. Jumlah Campers dari luar negeri ada 11 orang misalnya dari Kanada, Australia, Selandia baru, Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Hhailand, Hong Kong, Tiongkok, Korea Selatan. Ditambah campers dari Jepang ada 18 orang sehingga total 29 orang peserta.
Bagaimana dengan makanan? "Tidak ada masalah meskipun saya muslim. Mereka (panitia dan host family) pengertian banget sama agama ku. Mereka selalu ngecek apakah makanan yang aku makan mengandung babi atau tidak, dan lainnya. So far so good lah," ujarnya
PRIC didirikan sejak 1985 kelanjutan dari All Japan Student Camp (AJSC) yang didirikan oleh Yomiuri Shimbun tahun 1951 sebagai camp pendidikan pertama di Jepang.
Setiap musim panas sekitar 100 murid SMA dikumpulkan dan kini terkumpul 3.000 alumni AJSC. PRIC kini memasuki program ke-31 kali dengan berbagai kegiatan di bidang lingkungan hidup
"Program kami melakukan pre-camp mengunjungi Museum Edo Tokyo, lalu homestay di Yamanashi, camp ke Nagano dan kembali ke Tokyo mengunjungi kuil-kuil lalu balik ke negara masing-masing," kata Fumito Iwakura panitia camp tersebut kepada Tribunnews.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bagus-prasetyo-santosa-dari-sma-negeri-1-sidoarjo_20150810_071628.jpg)