Penembakan

Komentari Penembakan di Oregon, Obama Marah dan Frustrasi

Presiden AS Barack Obama dikatakan terlihat marah dan frustrasi.

Komentari Penembakan di Oregon, Obama Marah dan Frustrasi
New York Times/Zach Gibson
Presiden AS Barack Obama sedang berbicara di podium ruang pers Gedung Putih, Washington DC, AS, Kamis (1/10/2015). (New York Times/Zach Gibson) 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Sembari berkomentar soal penembakan di Umpqua Community College, Oregon, AS, Kamis (1/10/2015), Presiden AS Barack Obama dikatakan terlihat marah dan frustrasi.

Berbicara di ruang pers Gedung Putih, Washington DC, AS, dikutip dari New York Times, Obama mengatakan kasus penembakan demikian seperti sudah menjadi hal yang rutin terjadi, yang bahkan seperti sudah biasa terdengar.

"Amerika adalah negara maju satu-satunya di bumi di mana penembakan masal terjadi hampir tiap bulan. Lama-lama ini menjadi rutin terjadi. Saya berbicara di podium ini pun menjadi rutin," ucapnya, menurut pernyataan yang dirilis Gedung Putih.

Dikutip dari The Washington Post, selain mengungkapkan frustrasinya, Obama juga melayangkan doanya untuk para korban dan keluarga korban, sambil terus menekankan betapa kejadian ini sudah terjadi berulang kali.

"Tapi, seperti yang sudah saya katakan beberapa bulan lalu, pernah saya katakan juga sebelumnya, dan selalu saya katakan tiap kali insiden penembakan masal terjadi, doa dan belasungkawa saja tidaklah cukup."

Menurutnya, belasungkawa dan berkabung tak akan mencegah kejadian serupa terjadi lagi di negara itu, dalam beberapa minggu atau bulan ke depan.

Ia lalu beralih ke topik undang-undang soal penggunaan senjata, sembari kembali menyuarakan agar UU persenjataan lebih ketat dan tegas.

"Kita tahu ada negara lain, demi merespon sebuah insiden penembakan masal, mengubah undang-undangnya demi menghilangkan insiden serupa terjadi lagi. Inggris, Australia, dan negara lain yang seperti AS. Jadi kita tahu bahwa ada cara untuk mencegah itu," jelas Obama. (New York Times/The Washington Post/White House Release)

Penulis: Ruth Vania C
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved