Penjahat Jepang Dipasangi GPS Oleh Polisi

Seorang pencuri 4,2 juta yen di kota Kadoma, Osaka, melakukan perbuatannya berulang kali.

Penjahat Jepang Dipasangi GPS Oleh Polisi
Foto NHK
Pemasangan GPS di mobil dan penjejakan (intip) oleh polisi melalui GPS memiliki dua keputusan pengadilan soal privasi. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Keputusan pengadilan pengintipan atau penjejakan penjahat lewat GPS (Global Positioning System) yang ada di tiap mobil di Jepang ternyata menghasilkan dua keputusan di Jepang.

Ada keputusan yang menyatakan melanggar privasi, ada keputusan yang menyatakan tidak melanggar privasi.

"Menurut kami penggunaan GPS tidak melanggar privasi yang dilakukan polisi untuk menjejaki penjahat," ujar hakim ketua pengadilan tinggi Osaka, Nobuyuki Yokota, Rabu ini (2/3/2016) saat memutuskan kasus privasi pencuri Jepang yang telah diputus penjara 5 tahun enam bulan di pengadilan negeri Osaka beberapa waktu lalu.

Seorang pencuri 4,2 juta yen di kota Kadoma, Osaka, melakukan perbuatannya berulang kali.

Untuk menjejaki sang pencuri ternyata polisi Jepang menjejakinya dengan mengintip sistim GPS yang ada di mobilnya.

Akhirnya tertangkap dan disidangkan, telah diputus penjara 5 tahun enam bulan.

Namun dengan pengintipan lewat GPS tersebut, pencuri menuntut balik kepada polisi bahwa polisi telah melanggar privasinya.

Di Jepang memang ada peraturan tidak memperkenankan mengintip pembicaraan telpon atau hal lain yang sangat private, karena dianggap melanggar UU Privasi, termasuk larangan juga kepada polisi.

Namun dalam kasus GPS ini terjadi perbedaan pendapat di pengadilan Jepang.

Pengadilan negeri menyatakan ilegal, namun hari ini Pengadilan Tinggi menyatakan tidak ilegal dan polisi diperkenankan melakukan hal tersebut.

Halaman
12
Editor: Johnson Simanjuntak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved