Sabtu, 6 Juni 2026
Deutsche Welle

Bagaimana Disinformasi Perparah Wabah Ebola di Kongo

Bukan cuma virus Ebola yang sedang menghantui Republik Demokratik Kongo. Rumor dan disinformasi juga menghambat upaya penanganan di…

Tayang:
Deutsche Welle
Bagaimana Disinformasi Perparah Wabah Ebola di Kongo 

Sekitar 350 kasus terkonfirmasi, termasuk 60 kematian. Kurang dari tiga pekan setelah wabah Ebola diumumkan, dampaknya sudah terasa nyata di tengah masyarakat. Namun, di banyak tempat, penyakit itu masih belum dipercaya keberadaannya.

"Masyarakat tidak percaya pada penyakit ini. Meski sudah ada korban meninggal, mereka tetap tidak percaya,” kata John Tumujimbe, koordinator tim pemakaman aman dan bermartabat di Mongbwalu, salah satu pusat penyebaran wabah di Provinsi Ituri, timur laut Republik Demokratik Kongo.

Adalah wabah Ebola ke-17 yang kini tercatat melanda negara Afrika Tengah tersebut sejak virus itu pertama kali ditemukan pada 1976. Pengalaman dan keahlian untuk menangani situasi semacam ini sebenarnya sudah tersedia.

"Awalnya kami menduga malaria, tifus, atau penyakit diare. Namun setelah begitu banyak kematian, kami mengirim sampel ke INRB,” ujar Tumujimbe.

INRB, Institut Nasional Penelitian Biomedis Kongo, kemudian memastikan bahwa kasus-kasus tersebut memang Ebola.

Dari rumor jadi aksi kekerasan

Namun di Mongbwalu, yang menurut tenaga kesehatan baru pertama kali menghadapi wabah semacam ini, banyak warga menolak mempercayai penjelasan tersebut.

"Ketika kematian pertama terjadi, muncul pembicaraan bahwa peti mati adalah penyebabnya. Dari situlah rumor menyebar,” kata seorang warga setempat.

Tumujimbe mengingat narasi serupa.

"Semuanya berawal dari cerita tentang peti mati yang membunuh orang. Lalu semakin banyak orang meninggal,” ujarnya.

Rumor lain menyebut para petugas kesehatan dan pekerja bantuan menyebarkan virus melalui antena kendaraan mereka.

Hoaks itu kemudian berkembang menjadi kekerasan.

Pada akhir Mei, massa yang marah menyerang rumah sakit umum Mongbwalu. Mereka menuntut agar jenazah anggota keluarga yang meninggal diserahkan kepada mereka dan membakar tenda milik organisasi kemanusiaan Médecins Sans Frontières (MSF). Akibatnya, organisasi tersebut menarik seluruh personelnya dari lokasi.

"Terjadi kepanikan,” kata Direktur Rumah Sakit Mongbwalu Richard Lokudi kepada DW.

Situasi itu membuat sejumlah pasien yang dicurigai terinfeksi melarikan diri.

"Sebanyak 18 pasien yang sedang dipantau menghilang,” ujarnya.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved