Rabu, 21 Januari 2026

Duterte: Obama, Pergilah ke Neraka

Duterte menegaskan, tidak peduli dengan penolakan AS itu karena masih ada Rusia dan China yang bersedia menjual senjata kepada Filipina.

Editor: Hendra Gunawan
Philippine Star/AP/Bullit Marquez
Rodrigo Duterte 

TRIBUNNEWS.COM, MANILA - Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Selasa (4/10/2016), menyatakan kemarahan kepada Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, dengan mengatakan "pergi sana, ke neraka" dan mengungkapkan Amerika Serikat telah menolak menjual persenjataan ke negaranya.

Namun, Duterte menegaskan, tidak peduli dengan penolakan AS itu karena masih ada Rusia dan China yang bersedia menjual senjata kepada Filipina.

Duterte menuturkan, ia sedang menyusun kembali kebijakan luar negerinya karena Amerika Serikat telah mengecewakan Filipina.

Dan pada suatu titik, "Saya akan putus dengan Amerika," tambahnya.

Tidak jelas apa yang dimaksudnya dengan "putus".

Dikutip Antara, saat menyampaikan pidato kerasnya di Manila, Duterte mengatakan, Amerika Serikat tidak mau menjual peluru kendali dan persenjataan lainnya.

Tapi, katanya, Rusia dan China telah menyampaikan kepada dirinya bahwa kedua negara itu bisa dengan mudah mempersiapkan persenjataan yang diperlukan Filipina.

"Walaupun ini mungkin terdengar kotor bagi Anda, saya memiliki tugas mulia untuk menjaga integritas republik ini dan kesehatan rakyat," ujar Duterte.

"Kalau Anda tidak mau menjual senjata, saya akan berpaling ke Rusia. Saya sudah mengirim beberapa jenderal ke Rusia, dan Rusia mengatakan tidak usah khawatir, kami punya semua yang kalian perlukan dan kami akan memberikannya kepada kalian."

"Dan China, mereka mengatakan datang saja dan tanda tangan, semuanya akan dikirim."

Di Washington, para pejabat AS tidak memedulikan pernyataan Duterte itu. Menurut mereka, komentar-komentar Duterte itu "bertentangan" dengan hubungan hangat dan pertemanan Filipina-AS yang telah berjalan selama berpuluh-puluh tahun.

Juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest, mengatakan, tidak ada komunikasi dari Filipina soal negara itu mengubah hubungan dengan AS.

Namun, Earnest tidak ragu mengkritik taktik Duterte dalam perang maut yang dilancarkan pemimpin Filipina itu terhadap obat-obatan terlarang.

"Bahkan pada saat kami menjaga pertemanan kuat (AS-Filipina) ini, pemerintah dan (rakyat) Amerika Serikat tidak akan ragu untuk menyuarakan keprihatinan kami terhadap pembunuhan semena-mena," katanya dalam jumpa pers.

Pada Minggu, Duterte mengatakan, ia telah mendapat dukungan dari Rusia dan China ketika dirinya menungkapkan keluhan kepada kedua negara itu soal sikap AS.

Sumber: Warta Kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved