Donald Trump Pimpin Amerika Serikat
NATO Tutup Mulut, Batasi Data Intelijen ke AS demi Cegah Ambisi Trump Caplok Greenland
Sekutu NATO menahan intelijen dari AS, khawatir Trump pakai data untuk caplok Greenland. Aliansi Five Eyes terancam, keamanan global ikut terguncang.
Ringkasan Berita:
- Beberapa pejabat menahan data sensitif dari Washington, khawatir informasi bisa disalahgunakan untuk mendukung ambisi Trump menguasai Greenland.
- Aliansi AS-Inggris, dimulai sejak Misi Sinkov 1941 dan berkembang lewat UKUSA/Five Eyes, kini menghadapi risiko rusaknya kepercayaan akibat tindakan unilateral AS.
- Putusnya kerja sama intelijen dapat melemahkan keamanan NATO dan Eropa, mengganggu pemantauan ancaman global, serta meningkatkan risiko konflik dan ketidakpastian diplomatik.
TRIBUNNEWS.COM - Ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai Greenland memicu ketegangan serius dalam aliansi NATO.
Beberapa pejabat sekutu kini mulai membatasi diri, menahan semua informasi intelijen untuk Washington karena khawatir data sensitif dapat disalahgunakan pemerintah AS.
Adapun keputusan ini muncul setelah Trump berkali-kali menekankan keinginannya untuk “menguasai” Greenland, dengan alasan keamanan nasional dan mencegah pengaruh Rusia maupun China di kawasan Arktik.
“Kekhawatiran kami adalah bahwa intelijen yang biasanya dibagikan secara terbuka dengan Washington kini bisa digunakan untuk merencanakan langkah agresif terhadap Greenland,” ujar seorang pejabat senior NATO, dikutip dari iPaper.
“Ini bukan sekadar spekulasi. Kami memiliki dasar untuk menahan informasi demi mencegah potensi penyalahgunaan.” tambahnya.
Kerja Sama Intelijen AS - NATO Terancam
Sebelum ketegangan mencuat, kerja sama intelijen antara Amerika Serikat dan Inggris memiliki sejarah panjang selama lebih dari tujuh dekade.
Hubungan ini dimulai secara formal pada tahun 1941 melalui Misi Sinkov, sebuah operasi rahasia di mana pihak Inggris dan Amerika bertukar informasi sandi militer terkait Jepang dan Jerman di Bletchley Park, menjelang keterlibatan resmi AS dalam Perang Dunia II.
Setelah perang, kolaborasi ini berkembang menjadi Perjanjian UKUSA yang menetapkan mekanisme pertukaran informasi intelijen secara rutin dan sistematis antara AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru.
Baca juga: Fakta Baru Terungkap, Miliarder Yahudi Disebut Berperan dalam Ambisi Trump Kuasai Greenland
Aliansi ini kemudian dikenal sebagai Five Eyes, menjadi salah satu jaringan intelijen paling rahasia dan terpercaya di dunia, di mana data tentang keamanan global, operasi militer, hingga ancaman siber dibagikan secara luas antarnegara anggota.
Selama puluhan tahun, sistem ini memungkinkan Amerika dan Inggris untuk saling mendukung dalam menghadapi konflik internasional, mulai dari Perang Dingin hingga perang modern di Irak dan Afghanistan.
Kepercayaan dan keterbukaan informasi menjadi fondasi utama aliansi ini, menjadikannya salah satu pilar stabilitas global.
Namun, ambisi Presiden Donald Trump untuk mengambil alih Greenland dianggap telah merusak kepercayaan tersebut.
Beberapa pejabat sekutu mulai menahan intelijen penting dari AS, khawatir data tersebut dapat digunakan untuk mendukung agenda geopolitik unilateral yang menimbulkan risiko bagi keamanan Eropa.
“Dulu kami bekerja bahu-membahu dan saling percaya. Sekarang suasananya sangat berbeda,” kata seorang pejabat Eropa.
“Kekhawatiran ini bukan karena kami menentang AS secara keseluruhan, tetapi karena tindakan individu dapat merusak hubungan intelijen yang telah dibangun puluhan tahun.”imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/tribunnews/foto/bank/originals/bendera-NATO-dan-anggota-anggotanyd-d.jpg)