Warga Suriah Depresi di Pengungsian karena Trauma Perang, Ada yang Ingin Bunuh Diri
Ribuan pasien dari Suriah masuk ke pusat rehabilitasi psikologis setiap tahun. Sementara itu, di Irak, kondisi juga tidak lebih baik.
TRIBUNNEWS.COM, LEBANON - Seiring berlanjutnya krisis di beberapa wilayah Timur Tengah, seperti di Irak dan Suriah semakin banyak warga sipil yang harus menjalani imbasnya.
Tak hanya menyelamatkan diri, warga juga harus menghadapi masalah psikologis akibat perang. Walaa Ammouch misalnya. Ia meninggalkan Suriah untuk mengungsi ke Lebanon lima tahun lalu.
Kekejaman perang menyebabkan trauma mendalam. Walaa sempat depresi dan mencoba untuk bunuh diri.
Kini, Walaa beserta suami dan kedua anaknya mengikuti program rehabilitasi untuk mengatasi masalah psikologis akibat perang.
Ribuan pasien dari Suriah masuk ke pusat rehabilitasi psikologis setiap tahun. Sementara itu, di Irak, kondisi juga tidak lebih baik.
Pengungsi perempuan mengalami kesulitan menyusui. Rasa letih, stres, depresi, serta minimnya ruang pribadi membuat para ibu kesulitan memproduksi ASI.
Kondisi kamp pengungsian yang tidak layak dan asupan nutrisi ibu yang tak memadai juga berdampak buruk bagi kesehatan ibu menyusui.
Anak-anak pun terpaksa mengonsumsi makanan seadanya. Dokter lintas batas mencatat, ada peningkatan angka kekurangan gizi pada populasi bayi di pengungsian.
Meskipun jumlahnya belum memadai, lembaga sosial dan Perserikatan Bangsa-Bangsa terus menyalurkan bantuan berupa biskuit, susu formula, dan makanan berbahan dasar kacang-kacangan.
Walau tidak ideal, bagi para pengungsi, kamp penampungan lebih baik daripada hidup di tengah ancaman perang.(*)