Relawan dan wartawan di balik penyelamatan 12 remaja dan pelatihnya di Thailand
Bagaimana privasi keluarga korban tetap dilindungi? Wartawan BBC Haryo Wirawan yang meliput di tempat kejadian selama dua pekan menceritakan
"Awalnya para wartawan masih sulit tertawa, akhirnya setelah mereka ditemukan, kami bisa tertawa lagi," kata Haryo.
Para biksu terus melakukan ritual di dekat gua, setiap hari biksu utama dan terbesar di Thailand datang dan membawa alat-alat sembahyang.
Perhatian dari pemerintah
Perhatian tidak hanya datang dari para relawan, tetapi juga dari pemerintah Thailand. Media diberi tempat di sebuah tenda, sekitar lima meter dari mulut gua.
"Pemerintah sangat peduli, tidak cuma soal penyelamatan tapi juga hal-hal lain seperti media, para relawan. tenda disiapkan dengan baik sehingga hujan pun bisa kerja," kata Haryo. Tenda wartawan sangat berguna karena cuaca di tempat kejadian kerap berubah-ubah, kadang hujan deras, bisa panas sekali.
Di lokasi, lumpur setinggi dua kali mata kaki, dan karena banyak lumpur relawan pun menata batu-batu untuk berpijak.
Di tenda, semua kebutuhan telah disiapkan. Ada makanan gratis, air panas, air dingin, minuman energi, kaos kaki, bahkan celana dalam baru pun tersedia dan gratis. Ada peralatan kecil seperti obeng, obat-obatan dan anti nyamuk.
"Makanan tidak hanya dari orang biasa tapi juga dari kerajaan, mereka mendatangkan truk besar untuk masak, jadi makanan panas juga tersedia," kata Haryo.
Privasi untuk keluarga korban
Dengan perhatian dunia yang begitu besar pada kejadian ini, bukan berarti privasi keluarga korban dikorbankan.
Haryo menjelaskan bahwa media tidak bisa mengambil gambar dekat atau melakukan wawancara. Media hanya diizinkan mengambil gambar keluarga korban dari agak jauh, dan ada batas tali untuk membatasi area keluarga, dan wartawan tidak diizinkan masuk.
"Beberapa media lokal masuk-masuk saja tapi keluarga juga tidak memberikan pernyataan apa-apa selain bahwa mereka yakin semua akan selamat," kata Haryo.
Saat para korban sudah ditemukan, penjagaan pada keluarga korban makin ketat. Keluarga dipindahkan ke dalam safehouse, sekitar 300 meter dari mulut gua. Wartawan semakin sulit mendapatkan akses kepada keluarga, mereka pun dijaga oleh polisi dan petugas.
Itulah kenapa sampai sekarang belum ada foto korban yang tersebar di media maupun media sosial. Penyelamatan sangat mengutamakan kepulihan korban dari sakit fisiknya, maupun trauma ketika keluar dari gua.
"Sampai sekarang korban sangat dilindungi, kami tidak bisa ambil gambar muka anak-anaknya, tidak bisa ada gambar korban setelah diselamatkan, hanya ada update keadaan mereka dari waktu ke waktu," kata Haryo. Foto anak-anak baru diberikan pada 11 Juli, sehari setelah semua korban dievakuasi dengan selamat.
Profesionalitas regu penyelamat