Kamis, 23 April 2026
Deutsche Welle

Tidak terlihat tapi makin berbahaya: Kelompok Salafi Radikal di Jerman

Di Nordrhein-Westfalen (NRW) ada lebih banyak anggota salafi daripada di negara-negara bagian lain di Jerman.

Lain daripada para perempuan, jihadis lelaki yang kembali dari wilayah perang lebih mudah diidentifikasi. Karena mereka aktif bertempur dan sering terlibat dalam pembuatan video propaganda yang disebar di internet. Mereka juga membagikan kegiatan mereka di jejaring media sosial.Kejaksaan Agung sejak tahun 2013 telah mendakwa 24 orang yang kembali dari wilayah ISIS di Irak dan di Suriah.

"Dari sudut pandang badan keamanan, dukungan bagi para tahanan ini merupakan bahaya besar," kata Burkhard Freier dari BfV NRW. Para tahanan ini atau keluarganya misalnya mendapat sumbangan yang dikumpulkan di internet dari "saudara-saudara Muslim"nya.Tujuan sumbangan-simbangan ini adalah agar "orang-orang itu bisa dipertahankan sebagai anggota kelompok," tandasnya.

Kaan Orhon dari Hayat juga melihat dukungan bagi para tahanan ini sebagai "bidang perekrutan penting" bagi kelompok salafi. "Semakin banyak orang yang bergabung. Tetapi mereka tidak perlu terlalu mengekspos diri. Inilah yang sekarang dilakukan kelompok Salafi. Karena bisa dilakukan secara relatif anonim".

Bonn sebagai pusat kegiatan

Kota-kota seperti Mönchengladbach, Wuppertal, Dinslaken, Dortmund termasuk "hot spots" kelompok salafi diNRW. Namun pusatnya adalah kota Bonn. Tahun tahun 2012, dalam sebuah aksi menentang karikatur Nabi Muhammad, seroang angggota salafi menyerang dua polisi Jerman dengan pisau dan menikam mereka sehingga terluka parah.

Dua kakak beradik Yassin dan Mounir Chouka berasal dari Bonn dan pergi ke kawasan perbatasan Afhanistan-Pakistan tahun 2008. Mereka menyebarkan video-video propaganda dan menyerukan serangan-serangan di Jerman. Salah satu tokoh utama dalam aksi pembagian Al-Qur'an yang dikenal sebagai Abu Dujana juga tinggal di Bonn. Dan mantan petinju berambut merah dan sekarang menjadi mualaf yang paling berpengaruh, Pierre Vogel, juga sering berkampanye di Bonn.

Pierre Vogel sekarang lebih jarang tampil di muka mumum. Dia lebih sering menyebarkan khotbah di Youtube atau lewat Facebook. Dia memang sejak dari sekolah sudah tertarik dan sering berdebat tentang Islam, kata Aziz Fooladvand yang pernah menjadi guru Pierre Vogel di sekolahnya di kawasan Tannenbusch, Bonn. Foofladvand berasal dari Iran dan sekarang mengajar mata pelajaran Islam di sekolah menengah. Tannenbusch adalah kota Bonn dengan jumlah penduduk migran yang tinggi. Menurut data statistik terbaru, satu dari sepuluh warga Bonn beragama Islam.

Persaingan merebut hati anak muda

"Tugas terpenting saya adalah untuk memberikan para murid perasaan bahwa mereka di kelas saya mereka bebas berbicara. Saya ingin memberikan mereka ruang untuk berdiskusi," kata Fooladvand.. "Saya ingin mereka mengerti, bahwa agama bukanlah sesuatu yang statis, melainkan sebuah proses yang dinamis," tambahnya. Bagi banyak murid muslim, terutama dengan latar belakang masyarakat patriarkal, ini sesuatu yang baru.

Bagi Foodladvand, ini adalah masalah identitas. "Mereka tidak tahu: Apakah saya orang Jerman, apakah saya orang asing? Apakah saya Muslim, apakah saya orang Eropa?" Usia sekolah adalah masa kritis bagi perkembangan anak muda. Pada usia ini, mereka bisa tertarik pada konsep-komsep radikal yang menawarkan banyak hal. "Di kelompok ini mereka menemukan dirinya. Tiba-tiba mereka punyai perana. Tiba-tiba merasa menjadi anggota kelompok elit. Mereka mendapatkan semacam orientasi dari para anggota salafi radikal." Halaman-halaman Facebook kelompok salafi memberikan jawaban-jawaban sederhana: Apa yang dilarang, apa yang dibenarkan? Apa yang haram, apa yang halal?

Bernd Bauknecht pernah mengajar mata pelajaran Islam di sebuah sekolah di kota Bonn. "Kadang di kelas saya ada dua atau tiga murid yang berasal dari keluarga yang dekat dengan ide-ide radikal salafi," kata dia- Persaingan untuk memenangkan hati dan pikiran kaum muda adalah tugas besar, katanya. Kalau anak-anak muda sudah "terinfeksi" paham radikal, akan lebih sulit untuk mendekati mereka.

Bauknecht yakin, tindakan-tindakan yang selama ini dilakukan instansi-instansi pemerintah dan berbagai organisasi sipil untuk mencegah radikalisasi telah menunjukkan dampak: "Kalau seorang anak muda tiga tahun yang lalu di mesin pencari internet mengetik kata kunci 'Islam', ada lima dari sepuluh hasil temuannya terpengaruh aliran salafi. Bukan karena anggota salafi banyak, tetapi karena mereka memang menggunakan sarana ini dengan cerdik." Sekarang, kata Bauknecht, ada makin banyak Youtuber yang membantah interpretasi para salafi. Dengan bahasa anak muda dan dengan pragmatis, terbuka dan tenang.

Pergantian generasi

Kelompok Salafi di Jerman sejak awal 2003/2004 telah berubah banyak, kata pimpinan badan intelijen BfV NRW Burkhard Freier. "Awalnya ada kelompok yang berbahasa Jerman." Tujuan utama mereka adalah menyebarkan ajarannya. Banyak dari tokoh-tokohnya dulu merupakan orang-orang yang sebenarnya "buta agama", mereka hanya tahu sedikit tentang Islam. Selama tahun-tahun berikutnya, kelompok ini menjadi semakin radikal dan siap menggunakan kekerasan. "Puncaknya adalah pergi ke Suriah. Misinya bukan lagi hanya untuk mengubah sistem demokrasi Jerman, melainkan untuk mendirikan negara Khalifah di Timur Tengah."

Sejak kekalahan ISIS secara militer di Irak dan Suriah, terjadi perkembangan baru. "Sekarang, kelompok salafi yang ada tidak membutuhkan lago sebuah negara Khalifah atau ideologi dari luar. Mereka semakin berkembang menjadi ekstrimisme domestik", kata Burkhard Freier.

Kelompok salafi radikal sekarang lebih menutup diri, dan berkembang sebagai masyarakat dalam dunia paralel, dunianya sendiri yang berbeda dari dunia masyarakat umum. Jadi tidak seperti dulu, ketika mereka sering muncul di pusat-pusat kota dan mencoba merekrut anggota baru secara terbuka.

Sumber: Deutsche Welle
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved