Senin, 18 Mei 2026

'Perempuan pincang', mata-mata yang paling ditakuti oleh Nazi

Virginia Hall beroperasi tepat di bawah hidung para perwira Nazi. Dia mencuri rahasia perang, mengatur jaringan mata-mata Sekutu, serta membantu

Tayang:

Selama tiga tahun dia beroperasi di Prancis, di bawah hidung para perwira Nazi. Dia mencuri rahasia perang, mengatur jaringan mata-mata Sekutu, serta membantu tahanan perang melarikan diri dalam Perang Dunia II.

Virginia Hall dianggap sebagai mata-mata paling berbahaya. Perempuan itu mampu menghindar dari kejaran musuh sekalipun memiliki disabilitas yang jelas: dia memakai kaki palsu terbuat dari kayu seberat tiga kilogram untuk mengganti kaki kirinya.

Bahkan untuk sekutunya, Virginia merupakan sosok misterius yang terus menerus mengubah penampilan dan perilaku. Ia muncul tanpa peringatan di berbagai daerah di Prancis, kemudian tiba-tiba menghilang lagi.

Sekalipun sukses mengoleksi sekumpulan petualangan di masa perang, sang "perempuan pincang" ini tetap tak banyak diketahui hingga akhir hidupnya di 1980-an.

Biografi tentang Virginia baru saja diluncurkan dan akan diadaptasi menjadi film yang dibintangi oleh Daisy Ridley - yang dikenal lewat perannya di Star Wars.

Mimpi yang runtuh

Lahir di keluarga makmur di Negara Bagian Maryland, Amerika Serikat, pada tahun 1906, Virginia bercita-cita menjadi diplomat. Ia lancar berbahasa Prancis, Italia, dan Jerman, selain bahasa ibunya, bahasa Inggris.

Di usia 20 tahun, ia tinggal di Eropa untuk menyelesaikan sekolah dan bekerja sebagai pegawai di perwakilan Amerika Serikat di Warsawa, Venesia, dan Izmir. Tetap saja ia gagal menembus profesi diplomat.

"Ia terus menerus ditolak karena ia perempuan. Tak ada perempuan yang menjadi duta besar untuk Amerika," kata Sonia Purnell yang menghabiskan waktu tiga tahun memulung potongan-potongan informasi yang dibuatnya menjadi biografi Virginia Hall berjudul "A Woman of No Importance".

Virginia Hall
CIA
Bahkan untuk sekutunya Virginia Hall tetap misterius, terus mengubah penampilan dan perilakunya.

Mimpi Virginia berantakan ketika di usia 27, dalam sebuah kecelakaan ketika berburu, kakinya tertembak. Ganggren menyerangnya dan ia hampir meninggal. Dokter harus mengamputasi kakinya tepat di bawah lutut.

Kepada BBC, Purnell mengatakan, "Ia tipe perempuan tomboi yang senang berpetualang, senang dengan olaharaga pedesaan seperti berkuda dan berburu."

Tekad baja

Purnell mengatakan, alih-alih mengundurkan diri ke dalam kehidupan yang tenang, sesudah kecelakaan, Virginia malah terpacu untuk menyelesaikan hal-hal istimewa dalam hidupnya.

"Ia seorang yang gemar berpetualang, tetapi kecelakaan itu memberinya tekad baja. Ia ingin keluar dan membuat perbedaan. Ia seakan ingin membuktikan bahwa ada alasan kenapa ia selamat dari kecelakaan itu."

Pada 1940 Amerika Serikat belum ikut serta dalam Perang Dunia II, dan ketika Virginia mulai bekerja sebagai sukarelawan di garis depan dengan menyetir ambulans untuk membawa prajurit Prancis, di bawah hujan bom dan tembakan senapan mesin.

Bendera Nazi di Arc of Triomphe, Paris, Juni 1940
Getty Images
Virginia Hall mulai bekerja untuk kesatuan ambulans dan meninggalkan Prancis sesudah invasi Nazi tahun 1940.

Pada 1940 Nazi menduduki sebagian Prancis dan Virginia pergi dari sana. Di Spanyol ia menemukan kesempatan yang mengubah hidupnya.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved