Sabtu, 18 April 2026

Krisis Teluk: Apakah kita sedang menuju pada 'perang tanker' baru?

Serangan terhadap kapal tanker di kawasan Teluk mengingatkan pada 'perang tanker' pada dekade 1980-an. Mengapa sekarang disebut sebagai bisa

Kapal tanker yang terbakar di kawasan Teluk, kapal perang Amerika menjawab panggilan darurat, dan retorika perang yang menimbulkan ketakutan akan konflik yang besar.

"Perang tanker" adalah satu momen tegang internasional yang menegangkan pada saat-saat akhir perang antara Iran dan Irak. Iran baru saja menjalani Revolusi yang bersejarah, sementara Irak sedang dipimpin oleh Saddam Hussein.

Kedua pihak saling menyerang fasilitas minyak mereka, sejak pertengahan 1980-an.

Kapal-kapal netral kemudian diserang juga, ketika pihak yang bertikai mencoba memberi tekanan ekonomi kepada lawannya.

Tanker Kuwait yang membawa minyak Irak amat rentan untuk diserang ketika itu.

Amerika Serikat di bawah Ronald Reagan enggan untuk terlibat. Namun ketegangan kawasan Teluk mulai membahayakan. Ini ditandai ketika kapal perang Amerika USS Stark terkena hantaman rudal Exocet dari sebuah pesawat tempur Irak, sekalipun pejabat Irak menyatakan itu merupakan ketidaksengajaan.

Bulan Juli 1987, tanker Kuwait, memakai bendera Amerika, dikawal melalui kawasan Teluk oleh kapal perang Amerika. Pada masanya, ini merupakan konvoi kapal terbesar semenjak Perang Dunia Kedua.

Kapal tanker berbendera Jepang dan helikopter dengan lencana Angkatan Laut AS di bagian ekor
Getty Images
Bulan Oktober 1987, helikopter pengawal dari kapal perang AS, USS Guadalacanal mengamati tanker di kawasan Teluk.

Pada masa itu, Amerika dan Iran sedang berhadap-hadapan.

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatullah Khomeini, menyebut Amerika "Setan Besar" sejak Revolusi Islam di negeri itu tahun 1979.

Washington masih merasa kesal melihat 52 orang diplomat mereka disandera selama 444 hari di Teheran dari tahun 1979 hingga 1981.

Sekalipun Iran dan Irak bertanggung jawab terhadap krisis saat itu, perang tanker segera menjadi bagian dari pertengkaran jangka panjang antara Iran dan Amerika.

Pertengkaran ini belum hilang dan muncul sekali lagi di tengah keputusan Donald Trump untuk menerapkan "tekanan maksimum" setelah meninggalkan kesepakatan nuklir dengan Iran yang dibuat tahun 2015.

Kini sekali lagi, perairan di kedua sisi dari Selat Hormuz menjadi arena persaingan kedua negara.

Adakah yang berbeda dari konflik yang lama?

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved