Pemanasan global memicu wabah belalang 'yang diceritakan dalam Alkitab', kata para ilmuwan
Para ilmuwan memperingatkan bahwa krisis iklim akan membuat perilaku serangga jadi lebih merusak dan sulit diperkirakan. Serbuan belalang berpotensi
Serangga ini merupakan salah satu "musuh" tertua manusia, serbuan mereka dituliskan di dalam Alkitab dan Al-Quran.
Sejarawan Roma Pliny the Elde menyatakan 800.000 orang meninggal di kawasan yang kini disebut Libya, Aljazair dan Tunisa akibat kelaparan yang disebabkan oleh wabah belalang.
Sedangkan di tahun 1958 di Etiopia, kawanan belalang menutupi daerah seluas 1.000 kilometer persegi dan menghancurkan 167.000 ton biji-bijian — yang cukup untuk memberi makan satu juta orang setahun.
Kawasan bersuhu sedang akan lebih terpengaruh oleh serangga yang lapar. Di suhu panas seperti daerah tropis, metabolisme serangga ini melambat.
Tahun 2016 para ahli curiga pemanasan global berperan dalam serbuan serangga terbesar di Argentina dalam 60 tahun terakhir.
Musim dingin yang lembab dan hangat dipercaya memicu fenomena ini.
Terbang lebih tinggi dan lebih jauh
FAO juga memperingatkan perubahan iklim bisa menghasilkan kondisi ideal untuk migrasi belalang. Belalang gurun bisa terbang sejauh 150 kilometer dalam sehari.
"Di cuaca panas di masa depan, kawanan serangga mungkin bisa mencapai area yang lebih luas," kata FAO.
Suhu panas juga membuat serangga ini terbang lebih tinggi dan bisa mengatasi penghalang alam seperti gunung. Mereka bisa membuka rute migrasi baru, khususnya ketika pola tiupan angin berubah.
"Secara umum, wabah belalang diperkirakan akan lebih sering terjadi dan lebih buruk akibat perubahan iklim," kata Arianne Cease, Direktur Global Locust Initiative di Arizona State University.
Kawasan penyedia pangan menjadi yang paling rentan terancam kawanan serangga ini.