Teori konspirasi: kenapa masih ada yang percaya dan bagaimana menghindari jebakannya
Dari Bumi datar sampai AIDS buatan CIA, kenapa masih ada yang percaya dengan teori konspirasi? Para ahli membedah aspek psikologi yang menjelaskan
Ada banyak teori konspirasi beredar di sekitar kita. Mulai penyakit AIDS dan Ebola adalah temuan dinas rahasia Amerika Serikat CIA, hingga Bumi itu datar dan manusia tak pernah mendarat di Bulan.
Beredar pula teori bahwa vaksinasi adalah program yang ditujukan untuk membuat kaum perempuan di negara-negara tertentu mandul atau vaksin akan membuat anak-anak menjadi cacat.
Teori-teori ini tak memuat kebenaran namun konsekuensinya bisa fatal ketika banyak orang mempercayainya.
Teori konspirasi soal vaksin, misalnya, membuat banyak orang enggan menerima vaksinasi dan akibatnya muncul wabah campak di Amerika Serikat, Meksiko, Prancis, Madagaskar, dan sejumlah negara lain.
- Mengapa banyak orang percaya dengan teori konspirasi?
- Teori konspirasi kematian penyanyi Avril Lavigne bergulir kembali
- Apollo 11: Bukti foto yang mengukuhkan pendaratan di Bulan 50 tahun lalu
Kenapa percaya?
"Sejumlah penelitian menunjukkan kaitan antara stres, keadaan mudah dipengaruhi dan teori konspirasi," ujar Dr Mike Wood, psikolog dari Universitas Winchester, Inggris.
"Ketika seseorang tak menguasai dirinya sepenuhnya, ketika mengalami stres, teori konspirasi akan menjadi masuk akal," kata Wood.
Orang-orang yang mengalami trauma secara kolektif juga cenderung lebih mudah percaya dengan teori konspirasi, kata Dr Myrto Pantazi dari Institut Internet Universitas Oxford, Inggris.
Dengan menggandeng ilmuwan-ilmuwan lain, Pantazi meneliti teori konspirasi yang muncul setelah jatuhnya pesawat yang menyebabkan presiden Polandia tewas bersama 95 politisi dan sejumlah perwira tinggi militer, pada April 2010.
Hasil kajian memperlihatkan teori konspirasi mempertajam perpecahan di masyarakat dan meningkatkan peluang konflik, karena bersamaan dengan beredarnya teori konspirasi, muncul pula pertikaian antara orang yang percaya dan yang skeptis dengan teori konspirasi tersebut.
Pertikaian antara dua kubu ini sering kali mengganggu hubungan sosial di masyarakat.
Para pakar juga memperingatkan apa yang mereka katakan sebagai kekuatan dari paparan yang terus berulang, yang biasa disebut "ilusi kebenaran".
Yang juga menjadi kekhawatiran para ahli adalah amplifikasi teori konspirasi melalui media sosial.
"Makin sering Anda mendengarnya, makin sering Anda terpapar, makin besar pula kemungkinan Anda untuk mempercayainya," kata Jeff Hancock, guru besar ilmu komunikasi di Universitas Stanford, Amerika Serikat.
Dampak teori konspirasi
"Teori konspirasi bisa sangat berbahaya bagi masyarakat," kata Pantazi. "Jelas, orang-orang yang percaya bahwa vaksin menyebabkan autisme membuat anak-anak mereka menjadi rentan penyakit."