Komite Paralimpik Internasional Luncurkan I’mPossible Award

Komite Paralimpik Internasional bersama Agitos Foubdation kantor Jepang meluncurkan I’mPossible, Rabu (21/8/2019).

Komite Paralimpik Internasional Luncurkan I’mPossible Award
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Craig Spence, Kepala Marketing dan Komunikasi Komite Paralimpik Internasional (kanan) dan Matsue Miki atau Miki Matheson, Kepala Yayasan Agitos Japan (kiri). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Komite Paralimpik Internasional bersama Agitos Foubdation kantor Jepang meluncurkan I’mPossible, Rabu (21/8/2019) yang juga disaksikan Wakil Ketua Olimpiade 2020 Jepang.

"I’mPossible adalah alat pembelajaran untuk murid sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) yang mulai diperkenalkan oleh Agitos Foundation tahun 2012 dan mulai 2017 hingga kini memberikan sumbangan kepada 36.000 alat tersebut kepada 26 negara dan kini baru kita buat awardnya," ungkap Matsue Miki atau Miki Matheson, Kepala Yayasan Agitos Japan kepada Tribunnews.com.

Award tersebut sudah dimulai pendaftaran dan akan ditutup tanggal 31 Januari 2020, lalu akan diberikan saat penutupan Paralimpik 2020 mendatang.

Pengumuman pemenang tanggal 30 Maret 2020.

Penerima nantinya dua sekolah Jepang dan satu sekolah dari luar Jepang.

Craig Spence, Kepala Marketing dan Komunikasi Komite Paralimpik Internasional (kanan) dan Matsue Miki atau Miki Matheson, Kepala Yayasan Agitos Japan (kiri).
Craig Spence, Kepala Marketing dan Komunikasi Komite Paralimpik Internasional (kanan) dan Matsue Miki atau Miki Matheson, Kepala Yayasan Agitos Japan (kiri). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Kita berikan dua sekolah Jepang karena Jepang yang membuatnya dan memperuntukkan terutama kepada sekolah yang ada di Jepang. Sedangkan sekolah luar Jepang hanya satu yaitu yang negaranya tanda tangan MoU dengan Agitos Foundation," tambahnya.

Alat pembelajaran I’mPossible terutama menargetkan para difabel dan memudahkan anak-anak untuk lebih mengenal dan mempelajari dunia difabel.

Sehingga nantinya dunia difabel bisa diterima sepenuhnya dalam suasana kerja sehari-hari.

Singapura telah menandatangani MoU dengan pihak Agitos Foubdation, namun Indonesia belum menandatangani MoU tersebut sehingga tak bisa ikut serta di dalam kompetisi (award) tersebut.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved