Jumat, 15 Mei 2026

Gundala: Bagaimana Joko Anwar mereka ulang "jagoan" klasik Indonesia

Sutradara dan produser film Gundala mereka ulang sosok pahlawan super klasik Indonesia untuk penonton modern — dengan berfokus pada manusia

Tayang:

Karena itu film Gundala ini akan menjadi "taruhan" bagi suksesnya Jagat Sinema Bumilangit, menurut Ekky. Ia memperkirakan jika Gundala bisa mengumpulkan setidaknya dua juta penonton, ada jaminan kalau film berikutnya kemungkinan besar akan laku.

Ini bukan hal mudah meskipun Gundala adalah tokoh yang paling terkenal di antara jagoan Bumilangit lainnya — mengingat Wiro Sableng 212 (2018), film pendekar yang diangkat dari serial novel silat populer, tidak tembus dua juta penonton.

Tapi di hadapan tantangan tersebut, Presdir Bumilangit Bismarka Kurniawan tetap optimistis dengan proyek ambisiusnya.

"Saya rasa ini bukan apakah film itu mengenai apa ya... Tapi lebih ke arah bagaimana suatu karya perfilman itu dibuat, dari cerita, dari teknik fotografi, musik, dialog, yang saya pikir lebih menentukan apakah film itu diterima oleh masyarakat," kata Bismarka.

Belajar dari MCU, dan dari kegagalan studio-studio lain yang berikhtiar membentuk jagat sinema, Bismarka menekankan pentingnya membuat rencana sejak awal yang diarahkan oleh satu penutur cerita utama. Untuk itu, ia mendapuk Joko Anwar sebagai produser kreatif Jagat Sinema Bumilangit.

"Kami berharap nanti penonton, dengan diumumkannya jagat Bumilangit, mereka mengerti bahwa ini bagian dari suatu perjalanan baru," tutur Bismarka.

"Bersama dengan Joko Anwar, dia yang memplotkan semuanya sampai akhir tahun 2025 — jagoan mana yang muncul, musuh mana yang muncul, situasi apa yang dipakai, itu sudah ditentukan dari awal."

Komik Gundala
BBC
Karakter Gundala pertama kali muncul dalam komik buatan Hasmi yang terbit pada tahun 1969.

Siapa Gundala?

Gundala adalah tokoh rekaan Harya Suraminata (Hasmi) yang pertama kali muncul dalam komik Gundala Putra Petir yang diterbitkan PT Kencana Agung pada tahun 1969. Sesuai julukannya, Gundala memiliki kekuatan menembakkan petir dari telapak tangannya. Ia juga bisa berlari secepat angin topan.

Gundala mengenakan celana bokser merah ala Superman dan ornamen sayap di bagian telinga topengnya, yang mengingatkan pada desain The Flash, sehingga kerap dituding sebagai karakter jiplakan superhero Amerika.

Tapi inspirasi untuk karakter Gundala sebenarnya sangat lokal, kata Andy Wijaya, kolektor komik dan kawan mendiang Hasmi.

Tokoh itu terinspirasi dari legenda Ki Ageng Selo, yang konon mampu menangkap petir. Nama Sancaka, identitas asli Gundala, pun diambil dari tokoh pewayangan yaitu anak dari Kresna dalam epos Mahabharata.

Andy menjelaskan bahwa ketika Hasmi dan rekannya, Wid NS, merintis karier sebagai kreator komik, referensi mereka bukanlah komik-komik Amerika melainkan komik-komik strip dari King Features Syndicate yang dimuat di banyak surat kabar kala itu.

Karakter yang populer dari komik-komik tersebut antara lain The Phantom dan Flash Gordon.

"Komik yang disukai Pak Hasmi itu sebetulnya komiknya John Prentice, Dan Barry... komik Prince Valiant. Itu sebelum Marvel," ujarnya. "Komik Marvel atau DC itu mahal saat itu, dan belum diterjemahkan."

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved