BBC

Anak dua tahun diperkosa dan diminta bersaksi di pengadilan di Myanmar

Victoria - bukan nama sebenarnya - diduga diperkosa bulan Mei lalu di prasekolahnya, di ibukota Myanmar, Nay Pyi Taw. Anak ini diminta bersaksi

Usia Victoria - bukan nama sebenarnya - kini hampir tiga tahun dan ia harus bersaksi untuk memberikan bukti di persidangan yang mengadili tersangka pemerkosanya di Myanmar.

Victoria bicara selama dua jam tentang apa yang menimpanya, ditemani oleh seorang pengacara yang terlatih khusus untuk menangani anak-anak.

Kesaksian anak balita ini dilakukan di ruang lain dan bisa dilihat di ruang pengadilan melalui tautan video. Sidang kali ini tertutup bagi wartawan dan masyarakat luas.

Kasus yang menimpa Victoria ini kontroversial karena berbagai alasan. Selain soal usia, ia juga harus bersusah payah memberikan kesaksian dan membuktikan pemerkosaan terhadapnya.

Selain itu ada kecurigaan terkait ketidakmampuan kepolisian yang dianggap telah keliru menetapkan tersangka untuk kasus ini. Dalam pembuktian di persidangan, Victoria mengidentifikasi penyerangnya, tapi keduanya tidak ditangkap ataupun diadili.

Apa kata kepolisian?

Rekaman CCTV yang diperolah BBC News Burmese memperlihatkan tersangka berada di luar prasekolah.
Supplied
Rekaman CCTV yang diperolah BBC News Burmese memperlihatkan tersangka berada di luar prasekolah.

Pada tanggal 16 Mei, Victoria yang berumur dua tahun bersekolah di Prasekolah Wisdom Hill Private di Nay Pyi Taw, Myanmar. Ia kembali ke rumah sore harinya, dan menurut orang tua dan polisi setempat, ia telah diperkosa.

Yang pertama menemukan luka pada Victoria adalah ibunya, yang kemudian membawanya ke rumah sakit. Menurut polisi, uji medis memperlihatkan anak prasekolah ini telah mengalami serangan secara seksual.

Petugas kepolisian menyatakan awalnya mereka tak bisa bicara kepada Victoria karena pengaruh obat, tetapi ayah Victoria mengatakan anaknya diwawancara polisi setelahnya.

Dengan cepat, polisi menangkap tersangka.

Halaman
1234
Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di

BERITA REKOMENDASI

KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved