Burung yang memecah kacang dengan bantuan mobil dan cara-cara lain hewan beradaptasi dengan kehidupan kota
Ekspansi cepat kota-kota di seluruh dunia membawa dampak besar pada satwa liar dan dapat mendorong perubahan evolusi dan perilaku agar dapat
Selama ribuan tahun, burung gagak di kota Sendai, Jepang, menghadapi cobaan berat ketika mereka membayangkan cemilan favorit mereka - kacang kenari.
Karena cangkangnya terlalu keras untuk dipecahkan oleh paruh mereka, burung itu harus terbang ke udara dan menjatuhkan kacang dari langit.
Namun, pada tahun 1970-an seorang ilmuwan setempat memperhatikan bahwa hewan-hewan itu telah mengubah taktik.
- Tren perdagangan satwa liar yang dilindungi 'meningkat'
- Perjuangan membawa perdagangan satwa liar ilegal ke pengadilan
- Apakah kebiasaan Anda menggunakan internet membahayakan satwa liar?
Mereka mulai menjatuhkan kacang di tengah jalan, di mana kendaraan lalu lalang dan memecahkan cangkang kenari yang keras sehingga burung gagak bisa mendapatkan kacangnya dengan mudah.
Burung-burung secara efektif menggunakan mobil sebagai pemecah kacang.
Gagak Sendai menjadi studi kasus klasik tentang bagaimana urbanisasi mendorong perubahan perilaku hewan dan dalam beberapa kasus mempercepat adaptasi yang bisa memakan waktu jutaan tahun.
Adaptasi perkotaan
Data dari PBB pada tahun 2018 menunjukkan bahwa ada lebih banyak orang yang tinggal di perkotaan, atau sekitar 55% dari total populasi. Persentasi ini lebih tinggi ketimbang tahun 1960 yang hanya 34%.
Diperkirakan pada 2050 jumlahnya akan terus meningkat, di mana hampir 70% dari populasi dunia akan mejadi orang kota.
Sayangnya, pertumbuhan ini membawa dampak buruk bagi satwa liar dan keragaman hayati, terkait dengan habitat mereka yang terus berkurang.
Namun, itu juga memicu perubahan perilaku beberapa spesies yang beradaptasi untuk bertahan hidup di perkotaan.
"Sangat penting untuk memahami hubungan antara urbanisasi dan satwa liar," jelas ahli evolusi biologi dari Belanda, Menno Schilthuizen, yang meneliti tentang bagaimana hutan kota mendorong evolusi.
"Kita menuju situasi di mana satu-satunya alam yang akan ditinggali kebanyakan orang adalah alam perkotaan," tambahnya.
"Lebih baik kita memastikan bahwa satwa liar perkotaan akan menjadi sekaya dan beragam mungkin."
Perubahan yang cepat
Schilthuizen, ilmuwan lainnya berpendapat bahwa beberapa kasus adalah contoh "perubahan evolusioner cepat yang disebabkan oleh manusia" (HIREC) - adaptasi cepat yang dapat terjadi dalam waktu beberapa dekade atau bahkan bertahun-tahun, bukannya berabad-abad.