Tingginya Kasus Bullying di Jepang Akibat Kurangnya Perhatian Pihak Sekolah

Oktober 2014 lalu, seorang siswa sekolah dasar kelas 6 dibully temannya-temannya sehingga hidungnya berdarah.

Tingginya Kasus Bullying di Jepang Akibat Kurangnya Perhatian Pihak Sekolah
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Daisuke Fujikawa, Kepala Komite Penanganan Bullying di Nagareyama Chiba Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Oktober 2014 lalu, seorang siswa sekolah dasar kelas 6 dibully temannya-temannya sehingga hidungnya berdarah.

Namun antisipasi komisi pendidikan Chiba Jepang baru dilakukan tiga tahun kemudian setelah mendapat tekanan dari berbagai pihak.

"Keluhan sudah dilakukan pihak orang tua anak namun komite pendidikan Nagareyama Chiba Jepang baru melakukan sesuatu setelah tiga tahun berlalu," kritik Daisuke Fujikawa dan profesor Fakultas Pendidikan di Universitas Chiba, dan mantan ketua pertemuan survei penanggulangan buli di Nagareyama Chiba baru-baru ini.

Siswa itu absen untuk jangka waktu yang lama mencapai 30 hari, tetapi tidak menanggapi sebagai "situasi serius" sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pencegahan Bullying.

Baca: Amien Rais Tahan Diri Tak Mengkritik Kabinet Jokowi Sampai 6 Bulan ke Depan, Begini Reaksi Golkar

Profesor Fujikawa mengkritik, misalnya, bahwa Dewan Pendidikan Kota telah melakukan pelanggaran hukum.

Di sisi lain, dewan kota pendidikan menyangkal fakta bullying bahwa "ada perbedaan pendapat" dan telah melakukan berbagai usaha.

Menurut laporan sementara dari Komite Penelitian Penanggulangan Bully Kota Nagareyama, seorang anak lelaki kelas 6 SD mengalami pendarahan hidung sehingga absen 30 hari.

Grafik Kenaikan Kasus Bullying di Jepang
Grafik kenaikan kasus bullying di Jepang

Orang tua memohon kepada sekolah untuk menjauhkan intimidasi dan atau bully dari teman-teman anaknya tersebut.

Menurut undang-undang, dalam kasus lama absen 30 hari, itu harus diselidiki sebagai "situasi serius" dengan pembentukan komite penyelidik pihak ketiga yang independen.

Namun baru tiga tahun kemudian yaitu tahun 2017 dibentuk tim penyelidik tersebut dan telah pula dikeluarkan hasilnya agar dilakukan monitor ketat di bidang bully di Nagareyama.

Namun sampai kini pihak sekolah tidak melakukan dengan serius termasuk pula komite pendidikan kota tersebut lemah dalam pengawasan menurut Prof Fujikawa.

Baca: Sudah Diingatkan Warga, Satu Keluarga Nekat Selfie di Jalan, Akhirnya Tewas Ditabrak Truk

"Dewan Pendidikan Kota dan sekolah tidak dapat menunjukkan sikap serius dalam menangani masalah intimidasi dan atau bully. Oleh karena itu kita menuntut peningkatan drastis dari kota dan Dewan Pendidikan Kota agar masalah bully benar-benar lebih serius lagi diperhatikan mereka," kata Fujikawa.

Dari grafik dan data yang ada, bully di Jepang semakin meningkat terus dari tahun 2013 hingga tahun 2018 lalu.

Mencapai kini sedikitnya 602 kasus bully yang sangat serius terjadi di Jepang per tahun.

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved