Minggu, 26 April 2026

Demonstran Hong Kong ditangkap, setelah melawan polisi dengan panah dan bom molotov

Sejumlah pengunjuk rasa di Hong Kong ditahan saat mencoba melarikan diri dari kampus Universitas Politeknik (PolyU) yang dikepung polisi.

Pada Senin (18/11) pukul 05.30 waktu setempat, wartawan BBC menyaksikan api berkobar di pintu gerbang PolyU tempat para demonstran melemparkan bom molotov dan menembakkan panah dari balik barikade guna menghalau polisi yang hendak mengambil alih kampus.

Seorang anggota polisi dilaporkan mengalami luka pada bagian kaki akibat tembakan panah.

Insiden ini adalah lanjutan dari bentrokan sehari sebelumnya, ketika tembakan gas air mata dan meriam air dibalas bom molotov, batu bata, serta benda-benda lainnya.

javascript:void(0)

Aparat sudah memperingatkan bahwa mereka bisa menggunakan peluru tajam jika para demonstran tidak berhenti menyerang mereka.

"Dengan ini saya memperingatkan para perusuh untuk tidak memakai bom Molotov, panah, mobil, atau senjata mematikan lainnya untuk menyerang anggota polisi," sebut juru bicara Kepolisian Hong Kong, Louis Lau, melalui pesan Facebook, pada Minggu (17/11).

"Jika mereka meneruskan aksi berbahaya seperti itu, kami tidak ada pilihan kecuali menggunakan kekuatan minimum seperlunya, termasuk peluru tajam, untuk balas menyerang."

Sebelumnya, polisi dilaporkan telah menembakkan peluru tajam untuk membalas apa yang mereka klaim sebagai mobil yang sengaja diluncurkan ke arah polisi dekat universitas.


An anti-government protester holds a molotov cocktail during clashes with police outside Hong Kong Polytechnic University (PolyU) in Hong Kong, China, November 17, 2019.
Reuters

Bertekad berjuang sampai akhir

Laporan wartawan BBC, Gabriel Gatehouse, di Universitas Politeknik, pukul 04:00 waktu Hong Kong

Hanya yang paling radikal yang tersisa sekarang atau yang paling berani, tergantung cara pandang Anda.

Sekitar 100 orang berada di persimpangan di luar jalur masuk utama. Di seberang jalan: kendaraan lapis baja polisi dan sebuah truk meriam air.

Setiap 10 menit, kedua kubu bermain kucing dan tikus. Polisi menembakkan gas air mata dan meriam air berwarna biru.

Para demonstran, sembari berlindung di balik payung, merespons dengan melemparkan bom Molotov dan batu yang diluncurkan memakai ketapel rakitan. Kendaraan-kendaraan polisi kemudian mundur. Hasilnya imbang. Tidak maju, tidak juga mundur.

Ada sekian ratus demonstran lainnya di sekitar kampus. Paramedis merawat mereka yang terkena gas air mata atau cairan biru meriam air yang terasa perih di kulit. Lainnya menjaga barikade-barikade di pintu-pintu kampus yang kini dikepung.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved