Demonstran Hong Kong ditangkap, setelah melawan polisi dengan panah dan bom molotov
Sejumlah pengunjuk rasa di Hong Kong ditahan saat mencoba melarikan diri dari kampus Universitas Politeknik (PolyU) yang dikepung polisi.
Mereka yang tersisa tampak bertekad berjuang sampai akhir, apapun risikonya.
"Jika saya mati, ingatlah saya," kata seorang pemuda kepada saya.
"Kamu yakin itu bisa terjadi?" tanya saya.
Dia mengangkat bahunya dengan gugup.
Bentrokan antara aparat dan demonstran juga terjadi di sekitar kampus. Kebakaran dahsyat dilaporkan sempat berlangsung di jembatan pejalan kaki yang, menurut sejumlah saksi mata, memicu serangkaian ledakan kecil.
Dinas pemadam kebakaran api kemudian menghentikan kobaran api.
Sementara itu, sebuah truk polisi di jembatan atas terowongan Cross Harbour, yang menghubungkan Kowloon dan Pulau Hong Kong, dibakar dan dipaksa mundur oleh kerumunan massa demonstran. Mereka berlindung di balik payung sembari melemparkan bom molotov.
Pihak kampus sudah mendesak mereka yang berada di lingkungan kampus untuk hengkang.
"Universitas adalah tempat memajukan pengetahuan dan mengembangkan bakat. Universitas bukan arena pertempuran bagi pertikaian politik dan seharusnya tidak diseret ke konfrontasi yang penuh kekerasan," sebut pernyataan PolyU.
Dalam perkembangan lain, pada Sabtu (16/11), sejumlah tentara China berpakaian kaus oblong dan bercelana pendek dikerahkan ke jalan-jalan untuk membantu membersihkan puing-puing dan menyingkirkan barikade-barikade.
Inilah untuk pertama kalinya sejak aksi protes meletup, tentara China, yang jarang meninggalkan barak mereka di Hong Kong, dikerahkan ke jalan.
Rangkaian demonstrasi di Hong Kong, yang dimulai pada Juni lalu, dipicu oleh rencana pemerintah setempat untuk mengekstradisi pelaku kejahatan ke China daratan. Namun, protes berkembang menjadi tuntutan perluasan demokrasi dan penyelidikan atas dugaan kekerasan polisi.