Kasus pemerkosaan beramai-ramai terus muncul di India, mengapa kegentingan ini bisa terjadi?
India pernah dinyatakan sebagai negara paling berbahaya untuk perempuan. Seperti apa situasi nyata yang dihadapi perempuan di negara itu?
Kemarahan publik berkobar saat kasus kejahatan jalanan yang keji kembali terjadi di India. Kali ini, seorang dokter hewan berusia 27 tahun diperkosa beramai-ramai lalu dibakar hingga tewas di kota Hyderabad.
Jasad korban yang telah hangus ditemukan di bawah jembatan layang, sekitar satu pekan setelah terakhir kali dilihat di ruang publik.
Hingga kini empat terduga pelaku telah ditanggap polisi.
- 'Foto masturbasi' picu kemarahan dan dorong perempuan Tunisia menceritakan pengalaman mereka dilecehkan
- Dua bintang K-Pop dihukum penjara karena perkosaan: 'Kejahatan tersembunyi' di Korea Selatan
- Seniman yang 'bangkit' dari pemerkosaan dan penyiksaan yang dialaminya
Meski India memiliki tingkat kasus pemerkosaan dan kejahatan seksual terhadap perempuan yang tinggi, kasus terakhir ini mengejutkan masyarakat setempat.
Pekan lalu, setidaknya terdapat lima kasus pemerkosaan di sejumlah wilayah India yang diberitakan media massa. Salah satu korban adalah bocah perempuan berusia 6 tahun yang tewas setelah dicekik menggunakan tali pinggang sekolahnya.
Di media sosial, para perempuan India menyebut mereka terus-menerus hidup dalam ketakutan dan harus menyesuaikan diri pada realitas sosial: 'selamatkan diri Anda, berpakaianlah secara tepat, jangan berpergian sendirian atau tetap berada di rumah'.
Masyarakat India hidup dalam budaya patriarki. Bukan hal yang ganjil jika perempuan justru disalahkan karena dianggap memicu pelecehan seksual bahkan pemerkosaan.
Para korban kerap dipermalukan karena mengenakan rok atau jins pendek, berpacaran, berada di luar rumah malam hari atau sekedar berbincang melalui ponsel.
Bagaimana aturan pidana pemerkosaan?
Pemerintah India memperberat aturan pidana ini tahun 2013. Pemicunya adalah pemerkosaan beramai-ramai berujung kematian terhadap seorang pelajar tahun 2012. Kasus itu memantik protes publik secara besar-besaran.
Kategori serangan seksual dalam aturan baru itu diperluas. Penyerangan air keras, penguntitan, dan pengintipan masuk dalam kategori kejahatan tersebut.
Namun tersisa satu kontroversi, yaitu seorang suami yang tidak dapat dipersalahkan karena memperkosa istri, kecuali sang istri berusia di bawah 16 tahun.
Peraturan pidana yang baru itu meningkatkan ancaman pemenjaraan dan menerapkan hukuman mati untuk pelaku yang mengulangi pemerkosaan.
Pemerkosa yang menyebabkan korbannya jatuh koma termasuk orang yang dapat dipidana mati.
Pemerintah India juga memperluas definisi pemerkosaan. Tidak adanya bukti fisik perlawanan bukan berarti pemerkosaan tidak terjadi.
Apakah aturan pidana membatu korban?