Senin, 20 April 2026

Para peretas 'legal' yang mengantongi penghasilan miliaran rupiah

Sejumlah peretas mendapatkan penghasilan lebih dari US$350.000 atau Rp4,9 miliar karena menemukan kelemahan dalam perangkat lunak sebelum diketahui

Ini adalah pekerjaan yang tidak mensyaratkan pendidikan resmi atau pengalaman untuk menjadi sukses. Shivam, seperti yang lainnya, mengatakan dia belajar lewat berbagai sumber di internet dan blog.

"Saya tidak tidur selama bermalam-malam untuk mempelajari peretasan dan proses penyerangan sistem. Saya bahkan meninggalkan bangku kuliah di universitas pada tahun kedua."

Dia sekarang menjadikan kegemarannya menemukan cacat pada kode perangkat lunak sebagai karir yang menghasilkan banyak uang, sama seperti peretas lain dari Amerika, Jesse Kinser.

"Saya mulai tertarik pada peretasan saat di universitas, ketika saya mulai banyak meneliti peretasan telepon genggam dan forensik digital," dia menjelaskan lewat email.

"Dalam satu proyek saya mengidentifikasi cara memasukkan app jahat ke app store Android secara diam-diam."

Dana besar

Para pengamat mengatakan program hadiah bug berperan penting untuk membuat mereka termotivasi.

"Berbagai program ini memberikan alternatif legal bagi orang yang ahli teknologi informasi, yang jika tidak melakukannya akan tertarik untuk menjadi penjahat meretas sistem dan menjual data secara ilegal," kata Terry Ray, pejabat tinggi perusahaan keamanan data Imperva.

Pada tahun 2018, peretas AS dan India menyatakan diri mendapatkan hadiah terbesar di dunia, menurut perusahaan keamanan siber HackerOne.

Sebagian dari mereka dapat berpenghasilan lebih dari US$350.000 atau Rp4,9 miliar per tahun.

Perlombaan peretasan Insomni'hack 2014.
Getty Images
Perlombaan peretasan bertika berperan agar mereka tetap termotivasi.

Sandeep Singh, yang dikenal dengan nama geekboy di dunia peretasan, mengatakan ini semua adalah hasil kerja keras.

"Saya memerlukan waktu enam bulan dan 54 keberhasilan sebelum mencatat laporan pertama yang dianggap absah sehingga layak menerima bonus."

Peningkatan keamanan

Perusahaan seperti Hacker One, Bug Crowd, Synack dan yang lainnya sekarang menjalankan program hadiah bug untuk organisasi besar dan bahkan pemerintahan.

Mereka bertindak sebagai agen untuk mengawasi para peretas beretika, memverifikasi hasil pekerjaan dan memastikan terjaganya kerahasiaan para klien.

HackerOne, perusahaan hadiah bug terbesar sekarang memiliki hampir 550.000 peretas dan telah mengeluarkan dana lebih dari US$70 juta atau Rp987 miliar, kata Ben Sadeghipour, pimpinan Hacker Operations di perusahaan itu.

Sumber: BBC Indonesia
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved