Menteri Lingkungan Hidup Jepang Tak Mengungkap Cara Antisipasi Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara

Menteri Lingkungan hidup Jepang Shinjiro Koizumi tidak mengungkapkan cara-cara mengantisipasi pembangkit listrik tenaga batu bara di forum COP25.

Menteri Lingkungan Hidup Jepang Tak Mengungkap Cara Antisipasi Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara
Foto NHK
Menteri Lingkungan Hidup Jepang Shinjiro Koizumi (38) di forum COP25, Spanyol. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Menteri Lingkungan hidup Jepang Shinjiro Koizumi (38) tidak mengungkapkan cara-cara mengantisipasi pembangkit listrik tenaga batu bara di forum COP25 di Spanyol dalam pidatonya, Rabu (11/12/2019).

"Menteri Shinjiro Koicumi memberikan pidato pada pertemuan COP25 untuk membahas langkah-langkah penanggulangan pemanasan global dan melaporkan upaya dan hasil Jepang," ungkap sumber Tribunnews.com.

"Namun, tidak disebutkan bagaimana menggunakan pembangkit listrik tenaga batu bara, yang telah dikritik berbagai kalangan, atau meningkatkan target pengurangan gas rumah kaca," kata sumber itu, tadi malam.

Menteri Shinjiro Koizumi memberikan pidato pada pertemuan tingkat menteri COP25 sebelum jam 19.00 pada tanggal 11 Desember 2019 waktu Jepang.

Menteri lingkungan hidup termuda Jepang Shinjiro Koizumi (39) (kanan) dengan menghadapi Gubernur Fukushima Masao Uchibori (55) siang ini (12/9/2019).
Menteri lingkungan hidup termuda Jepang Shinjiro Koizumi (39) (kanan) dengan menghadapi Gubernur Fukushima Masao Uchibori (55) siang ini (12/9/2019). (Richard Susilo)

Dia hanya menyatakan bahwa emisi gas rumah kaca telah berkurang selama lima tahun berturut-turut, dan bahwa pemerintah Jepang telah mengumumkan serangkaian tujuan untuk mencapai nol emisi pada tahun 2050.

"Kami terus bergerak maju dengan dekarbonisasi dengan hasil yang baik," kata Menteri Shinjiro Koizumi.

"Saya tahu bahwa Jepang sedang dikritik secara internasional. Namun, saya ingin berbagi kebijakan baru tentang pembangkit listrik tenaga batu bara di sini. Sayangnya, saya tidak bisa mengungkapkan caranya di sini," kata Shinjiro Koizumi menanggapi penggunaan pembangkit listrik tenaga batu bara, yang semakin banyak dikritik secara internasional.

Menteri Koizumi tidak secara spesifik menyebutkan apa yang akan dia lakukan dengan pembangkit listrik tenaga batu bara.

Baca: Pawai Tim Rugby Jepang Dipadati 50.000 Penggemar di Daerah Marunouchi Tokyo

Baca: Pelajar SMP di Jepang Meninggal Setelah Terjun dari Mansion, Diduga karena Pengaruh Obat Influenza

Dalam COP ini, salah satu titik fokus adalah apakah masing-masing negara dapat menyetujui dengan meningkatkan target pengurangan gas rumah kaca, tetapi Menteri Koizumi tidak menyentuh pada peningkatan target.

Pidato itu juga mengecewakan beberapa negara, dan seorang pria dari delegasi Spanyol mengatakan, "Jepang harus menekankan kepada energi terbarukan, tetapi sangat disayangkan bahwa tidak ada tindakan baru telah ditampilkan. Saya tidak punya pilihan selain berharap dari negara-negara lain."

Mengenai pidato Menteri Koizumi, pria dari delegasi pemerintah Ethiopia mengatakan, "Selain menjelaskan cara menetapkan tujuan dan cara bekerja, beliau sebagai menteri muda tidak menyebutkan apa yang harus dilakukan dengan pembangkit listrik tenaga batu bara di masa depan. Pembangkit listrik tenaga batu bara memiliki banyak emisi gas rumah kaca, dan negara-negara maju tidak boleh melanjutkan."

Baca: Mantan Menteri Jepang Ditembak Bekas Teman SMA-nya Gara-gara Hutang Piutang

Baca: Kasus Narkoba Jepang Terus Bertambah Banyak, 40% Adalah Pemuda Usia 20 Tahunan

Baca: Biaya Periklanan Jepang di Internet Kini Lebih Besar Dibandingkan Penghasilan Iklan Televisi

Menteri Koizumi juga mengungkapkan, "Saya adalah menteri termuda dan saya akan menjadi ayah tahun depan, jadi saya khawatir tentang generasi muda."

Selain itu, seorang pria dari delegasi Gambia Afrika Barat mengatakan, "Penanggulangan terhadap pemanasan global melibatkan proses dan membutuhkan waktu. Setiap orang harus bertindak dan membujuk mereka sampai ke puncak kekuasaan di Jepang."

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved