Olimpiade 2020

Panitia Olimpiade 2020 Jepang Pertimbangkan Tempat Salat Bagi Kalangan Muslim

Panitia Olimpiade 2020 di Tokyo Jepang akan mempertimbangkan tempat dan waktu salat bagi kalangan muslim atlet dunia yang hadir di Olimpiade 2020.

Panitia Olimpiade 2020 Jepang Pertimbangkan Tempat Salat Bagi Kalangan Muslim
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Menteri Olimpiade dan Paralimpik Jepang 2020, Seiko Hashimoto. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Panitia Olimpiade 2020 di Tokyo Jepang akan mempertimbangkan tempat dan waktu salat bagi kalangan muslim atlet dunia yang hadir di Olimpiade mendatang.

"Kita menghormati dan menyambut baik semua atlet dan akan mempertimbangkan berbagai upaya mengenai tempat dan waktu bagi kalangan muslim yang mau menunaikan ibadah salat," ungkap Menteri Olimpiade dan Paralimpik Jepang 2020, Seiko Hashimoto kepada Tribunnews.com dalam jumpa pers, Jumat (17/1/2020) siang.

Jepang akan menyelenggarakan Paralimpik pertama kali di Asia seusai Olimpiade 9 Agustus 2020.

Ternyata minat masyarakat yang ingin menyaksikan Paralimpik di Jepang sangat besar saat ini.

"Saat pendaftaran penjualan tiket Paralimpik tahap pertama tahun lalu tercapai 390.000 orang mengajukan aplikasi pembelian tiket. Dibandingkan dengan Olimpiade London untuk Paralimpik ternyata jumlahnya 3 kali lebih besar," ungkapnya.

Stadion utama nasional olahraga Jepang di Tokyo tempat pembukaan Olimpiade dan Paralimpik 2020.
Stadion utama nasional olahraga Jepang di Tokyo tempat pembukaan Olimpiade dan Paralimpik 2020. (Richard Susilo)

Hal tersebut membuat Jepang mendapat pujian juga dari komite Olimpiade dan Paralimpik Internasional karena berhasil mengangkat minat masyarakat untuk memperhatikan kalangan difabel.

"Kita juga menyiapkan diri untuk berbagai kemungkinan termasuk serangan cyber yang bisa mencapai ratusan juta kali untuk merusak jaringan internet Jepang. Demikian pula antisipasi aksi terorisme dan tak ketinggalan antisipasi terhadap masuknya penyakit ke Jepang," ungkapnya.

Oleh karena itu salah satu caranya Jepang akan memasang berbagai peralatan monitor di banyak tempat guna mengantisipasi penyebaran penyakit (menular) yang kemungkinan masuk dari diperkirakan 40 juta turis.

"Alat itu akan dapat mendeteksi suhu tubuh manusia di sekitarnya dengan sensor yang digunakan, sehingga bida mengetahui apakah seseorang sedang terkena penyakit berbahaya atau tidak," ujarnya.

Baca: Jinichi Kawakami Tak Mau Menularkan Ilmu Ninja Jepang yang Dimilikinya kepada Sang Puteri

Baca: Jepang Kekurangan Salju, Sejumlah Kegiatan Tertunda

Selama pesta olahraga dunia itu pula panitia Olimpiade akan membuat host town yang akan dikaitkan dengan berbagai kota di berbagai negara.

"Kita akan tingkatkan kerja sama antar kota dengan negara lain lalu menciptakan pertukaran budaya internasional dengan rakyat Jepang sehingga hubungan antar negara akan semakin manis," ujar dia.

Salah satu ciri khasnya adalah ucapan “Itterasshai” atau selamat jalan dan “Okaeri” (selamat kembali) yang akan disebutkan keluarga Jepang sebagai host family saat menampung warga asing di rumahnya.

"Ucapan itu rasanya hanya ada di Jepang saja selalu dilakukan bagi yang ke luar rumah dan datang kembali ke rumahnya. Cara demikian yang sederhana mungkin bisa semakin meningkatkan keakraban antar bangsa dengan lebih baik lagi," harapnya.

Bagi penggemar Jepang dapat ikut diskusi dan info terakhir dari WAG Pecinta Jepang. Email nama lengkap dan nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved