Pasca Membunuh Qaseem Soleimani, Amerika Tak Bisa Nyaman Lagi di Timur Tengah

Seorang pejabat Dewan Syuro Iran, Husein Amir Abdilllahian, memperingatkan, pascapembunuhan Mayjen Qaseem Soleimani, Amerika takkan pernah nyaman

Pasca Membunuh Qaseem Soleimani, Amerika Tak Bisa Nyaman Lagi di Timur Tengah
Twitter / ABACA via Daily Mirror
Perang Dunia III dimulai setelah Iran melakukan serangan rudal balas dendam ke pangkalan AS di Irak, Rabu (8/1/2020), atas kematian Qasem Soleimani. 

TRIBUNNEWS.COM, TEHERAN – Seorang pejabat Dewan Syuro Iran, Husein Amir Abdilllahian, memperingatkan, pascapembunuhan Mayjen Qaseem Soleimani, Amerika takkan pernah nyaman lagi di Timur Tengah.

Pernyataan itu disampaikan Abdillahian pada simposium politik membahas pembunuhan Soleimani di Fakultas Hubungan Internasional Kementerian Luar Negeri Iran, Senin (20/1/2020).

Peringatan itu dipublikasikan Fars News Agency, dan dikutip situs berita Al Masdar News Network yang berbasis di Beirut, Lebanon.

 

“Komandan Soleimani tak pernah melupakan Palestina. Dalam pertempuran melawan terorisme, kita menjadi saksi kekalahan ISIS di Irak, Suriah, Lebanon dan di kawasan ini,” imbuhnya.

“Misi membunuh martir kami, Soleimani, yang menjadi strategi Zionis untuk memecah belah bangsa di kawasan ini, terbukti gagal,” ujar Abdillahiani.

Suasana pemakaman akbar almarhum Mayjen Qassem Soleimani, mantan Kepala Pasukan Quds Korps Garda Republik Iran di Kota Ahvas dan Mashhad, Iran, Minggu (5/1/2020) siang waktu setempat.
Suasana pemakaman akbar almarhum Mayjen Qassem Soleimani, mantan Kepala Pasukan Quds Korps Garda Republik Iran di Kota Ahvas dan Mashhad, Iran, Minggu (5/1/2020) siang waktu setempat. (Live Sputniknews)

“Tahun ini, Amerika mengulang cara ini di wilayah ini, dan bisa kita saksikan apa yang terjadi di Irak dan Lebanon. Bersama sekutu-sekutunya, mereka akan terus membuat kekacauan di wilayah ini,” lanjutnya.

Menunjuk perang brutal di Yaman, Abdullahiani mengatakan, Saudi pasti tidak akan mampu bertempur sedemikian lama, tanpa berkoordinasi dengan Amerika.  

 

“Perang di Yaman itu kekeliruan mereka,” tegas Abdillahiani. Terkait dengan konflik di Yaman, perkembangan terbaru menunjukkan pertempuran terus berlangsung di perbatasan Yaman-Saudi.

Di sisi lain, muncul pemberitaan terjadinya pemberontakan milisi bersenjata yang direkrut Saudi, dan dikerahkan di medan perang guna melawan kelompok Houthi yang berkuasa di Sanaa dan Yaman utara.

Lusinan milisi bersenjata bayaran tewas dan terluka saat mereka mencoba menyerang pasukan Yaman di Distrik Nihem, Provinsi Sanaa.

Garda Revolusi Iran memperlihatkan tiga rudal meluncur di udara dari lokasi yang dirahasiakan.
Garda Revolusi Iran memperlihatkan tiga rudal meluncur di udara dari lokasi yang dirahasiakan. (AFP/SEPAH NEWS)
Halaman
12
Editor: Sugiyarto
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved