Rabu, 3 Juni 2026

Suriah Memanas

Turki Dituduh Mengirim Warga Suriah Kembali ke Zona Perang Saat Konflik Meningkat

Turki dituduh memaksa pengungsi untuk masuk ke zona perang, kabar ini dibantah Ankara. Namun pengungi menyatakan mereka tidak pergi secara sukarela.

Tayang:
Associated Press
Seorang tentara Suriah tengah mengabadikan foto reruntuhan gedung yang diduga merupakan pusat penelitian senjata kimia, usai serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat, Perancis dan Inggris ke Suriah 

Human Rights Watch mengatakan, puluhan warga Suriah dan mungkin lebih banyak lagi telah dikirim kembali antara Januari dan September 2019.

Amnesty International mengatakan, pihaknya memverifikasi 20 kasus deportasi.

"Klaim para pejabat Turki, semua warga Suriah kembali ke negara mereka dengan senang hati tak memberikan tanggapan di hadapan bukti yang bertentangan," kata pihak Human Right Watch, Gerry Simpson.

"Turki menjadi tuan rumah empat kali lebih banyak warga Suriah daripada Uni Eropa," kata dia.

"Tetapi itu tidak berarti bisa mengembalikan mereka ke zona perang," tegasnya.

Baca: Sepulang dari Suriah, Wanita Simpatisan ISIS Ini Mengaku Tertipu, Perempuan Dijadikan Pabrik Anak

Provinsi Deir ez-Zor, Suriah.
Provinsi Deir ez-Zor, Suriah. (Sputnik/Mikhail Alayeddin)

Tidak Pergi dengan Sukarela

Haytham Abdallah mengatakan, ia kembali dari Turki ke Suriah pada Juli 2019.

Ia menegaskan tidak pergi dari Turki dengan sukarela.

Abadallah (40) menuturkan, ia, istri dan tiga anaknya dipaksa untuk mengikuti perintah karena mereka tidak dapat bertahan hidup di Istanbul tanpa mencari nafkah.

Abdallah berbicara dengan NBC News pada Oktober 2019 lalu mengatakan, sekarang ia dan keluarga hidup segan mati tak mau di kamp Azaz, Suriah barat laut.

Ia dan keluarganya mengandalkan bantuan makanan untuk bertahan hidup.

Baca: Pengamat: Pemerintah Tak Punya Prosedur Karantina WNI Pro-ISIS Suriah

Ankara mengatakan, daerah itu memungkinkan warga Suriah untuk hidup aman di negara asal mereka.

"Ini bukan zona aman, ini adalah penjara," katanya.

Komite Penyelamatan Internasional mengatakan keprihatinannya sebab 800 ribu orang yang saat ini berada dalam zona perang akan dibiarkan dengan sedikit pilihan untuk keselamatan.

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved