Rabu, 3 Juni 2026

Iran Vs Amerika Memanas

Trump Umumkan Gencatan Senjata Lebanon, Netanyahu Panen Cemoohan di Israel: Dibilang Cuma Boneka

Netanyahu dianggap cuma boneka AS setelah Trump mengintervensi rencana Israel untuk menyerang Beirut Lebanon

Tayang:
Tangkap layar siaran Youtube WPLG Local 10
NETANYAHU DESAK TRUMP - Saat melakukan pertemuan di Gedung Putih pada Rabu (11/2/2026), Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk segera melancarkan serangan militer terhadap fasilitas nuklir Iran. 

Trump Umumkan Gencatan Senjata Lebanon, Netanyahu Hujan Kritik di Israel: Dibilang Cuma Boneka

Ringkasan Berita:
  • Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah serta menyatakan Israel tidak akan menyerang Beirut.
  • Keputusan tersebut memicu kritik dari oposisi dan sejumlah politisi Israel yang menilai Netanyahu terlalu mengikuti tekanan Washington.
  • Perdebatan muncul saat Israel sebelumnya telah menyiapkan perluasan operasi militer di Lebanon dan mengancam akan menyerang wilayah pinggiran selatan Beirut.

 

TRIBUNNEWS.COM - Pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengenai tercapainya gencatan senjata di Lebanon memicu perdebatan politik di Israel.

Sejumlah tokoh oposisi hingga politisi sayap kanan mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah pemerintah Israel membatalkan rencana serangan ke pinggiran selatan Beirut menyusul intervensi Washington.

Baca juga: Manuver Tak Lazim Amerika, Diplomasi Menit-Menit Terakhir Cegah Eskalasi Besar Israel-Hizbullah

Trump pada Senin (1/6/2026) menyatakan melalui platform Truth Social kalau Israel tidak akan melancarkan serangan ke Beirut setelah dirinya melakukan percakapan telepon yang disebut "produktif" dengan Netanyahu.

Dalam unggahan yang sama, Trump juga menyebut Hizbullah telah menyetujui "gencatan senjata total".

Pernyataan itu muncul hanya beberapa jam setelah pemerintah Israel mengeluarkan perintah untuk menyerang pinggiran selatan Beirut, wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis utama Hizbullah di Lebanon.

Pengumuman tersebut juga datang ketika operasi militer Israel di Lebanon sedang meningkat dan pasukan daratnya dilaporkan telah mencapai posisi terdalam di wilayah Lebanon dalam lebih dari dua dekade.

Latar belakang perkembangan ini berkaitan dengan upaya Washington menjaga stabilitas kawasan di tengah negosiasi yang sedang berlangsung dengan Iran.

Pemerintah AS disebut khawatir eskalasi besar di Lebanon dapat menggagalkan proses diplomasi yang lebih luas. 

Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah Garda Revolusi Iran memperingatkan kemungkinan pembukaan front konflik baru apabila Israel terus melanjutkan operasi militernya di Lebanon.

PERDAMAIAN DI GAZA - Tangkapan layar menunjukkan konferensi pers yang dilakukan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah mengadakan pertemuan di Gedung Putih untuk membahas mengakhiri perang di Gaza, Senin (29/9/2025).
PERDAMAIAN DI GAZA - Tangkapan layar menunjukkan konferensi pers yang dilakukan Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah mengadakan pertemuan di Gedung Putih untuk membahas mengakhiri perang di Gaza, Senin (29/9/2025). (YouTube Associated Press)

Disebut Cuma 'Boneka'

Di dalam negeri Israel, keputusan menghentikan serangan ke Beirut langsung memicu kritik keras terhadap Netanyahu.

Pemimpin oposisi Yair Lapid menyindir bahwa Israel kini menjadi negara yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan pihak lain, merujuk pada keputusan Netanyahu yang dianggap mengikuti keinginan Trump.

Kritik juga datang dari mantan Menteri Pertahanan dan pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Avigdor Lieberman.

Menurut laporan media Israel, Lieberman menyebut Netanyahu sebagai "boneka" dan mempertanyakan kepemimpinannya setelah menerima permintaan Washington untuk menghentikan operasi militer tersebut.

Sesuai Minatmu
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved