Virus Corona

Gubernur Kanagawa Jepang Bentuk Tim Corona Fighter

Gubernur Kanagawa, Jepang, Yuuji Kuroiwa akan membentuk "Corona Fighter" dalam waktu dekat.

Foto Pemda Kanagawa
Gubernur Kanagawa Jepang, Yuuji Kuroiwa. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Gubernur Kanagawa, Jepang, Yuuji Kuroiwa akan membentuk "Corona Fighter" dalam waktu dekat karena para PNS stafnya petugas kesehatan dan keluarga mereka, tidak sedikit yang menjadi subyek diskriminasi dan prasangka warganya.

"Ternyata tidak sedikit petugas kesehatan dan keluarga mereka menjadi subyek diskriminasi dan prasangka. Hal tersbeut benar-benar tidak dapat diterima," ungkap Gubernur Yuuji Kuroiwa, Kamis (26/3/2020).

Oleh karena itu Gubernur Kuroiwa akan meluncurkan kampanye untuk menamai petugas kesehatan sebagai "Corona Fighter," yang menyerukan kepada jejaring sosial sekaligus meminta masyarakat agar menahan diri untuk tidak ke luar akhir pekan ini.

"Kami ingin Tokyo dan Kanagawa berkumpul dan menahan diri untuk tidak ke luar. Selain itu juga adar 3-M (mippei, misshū, missetsu ) dilakukan warganya," kata dia.

3-M atau mippei, misshū, missetsu adalah hindari ketertutupan (kalau bisa di tempat terbuka), hindari kepadatan (jauhkan kumpul-kumpul), dan hindari kedekatan (jaga jarak).

"Pekerjaan sebisanya dirancang untuk dilakukan di rumah, dan bahwa penundaan, pembatalan dan penyelenggaraan acara harus diantisipasi dengan baik," kata dia.

Baca: Tips Agar Anak Mau dan Tidak Bosan Belajar di Rumah selama Masa Physical Distancing Covid-19

Baca: Sri Mulyani: Pak Jokowi Langsung Kerja Meski Dalam Suasana Duka

Selain itu, ia mengirim janji medis kepada para profesional medis yang sibuk menanggapi penyakit infeksi coronavirus baru, yang disebut Corona Fighters.

"Saya ingin menunjukkan rasa hormat saya yang tulus terhadap fakta bahwa petugas layanan kesehatan memerangi infeksi coronavirus baru dengan semua kemampuan mereka yang melakukan perawatan medis terbaik," kata Gubernur Kuroiwa.

Sementara itu, rumah sakit yang telah menerima pasien baru yang terinfeksi virus korona dilaporkan telah menolak untuk menerima diri sebagai pusat pengasuhan anak dilakukan perawat tenaga medis dan menolak pengiriman ke lokasi perusahaan yang memberikan obat-obatan.

Rumah Sakit Pusat Sagamihara di Perfektur Kanagawa merilis dokumen pada bulan Februari 2020 yang mengeluh bahwa staf rumah sakit dan anak-anak mereka dirawat karena diskriminasi diskresioner.

"Prasangka dan diskriminasi semacam ini benar-benar tidak dapat diterima," tegas Gubernur Kuroiwa.

"Kami ingin meningkatkan momentum untuk mendukung petugas layanan kesehatan dan keluarga mereka untuk mencegah kehancuran layanan kesehatan. Tujuan kampanye adalah untuk mengirim petugas layanan kesehatan dan pejuang corona memerangi virus corona dengan seluruh kekuatan mereka."

Baca: Bantah Mangkir dari Panggilan Kepolisian, Irwansyah Sebut Minta Pemeriksaan di Jakarta Karena Ini

Baca: Cegah Penyebaran Corona, KAI Melakukan Penyemprotan Disinfektan untuk KA Angkutan Barang

Secara khusus, Gubernur Kuroiwa meminta warga untuk mengirim pesan dukungan, "Ganbare Corona Fighters."

Selain itu juga membuat stiker pemberi semangat tersebut kepada para tenaga medis di sana.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved