Virus Corona

Tagar Covidiot Sindir Warga Tokyo Jepang yang Masih ke Luar Rumah dan Berkerumun di Tempat Umum

Banyaknya warga Tokyo yang membandel dengan ke luar rumah, membuat tingkat infeksi covid-19 meningkat tajam.

Tagar Covidiot Sindir Warga Tokyo Jepang yang Masih ke Luar Rumah dan Berkerumun di Tempat Umum
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Salah satu postingan Covidiot di twitter 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Banyaknya warga Tokyo yang membandel dengan ke luar rumah, membuat tingkat infeksi covid-19 meningkat tajam.

Sebelumnya tanggal 24 Maret lalu ada 17 orang menjadi 41 orang. Bahkan pada Jumat (27/3/2020) hari ini menjadi 48 orang.

"Orang Jepang kalau sudah bandel begitu harus disindir bukan dikeraskan. Makanya lari ke tagar Covidiot dan pasti malu maka akan menghentikan tingkah lakunya yang aneh-aneh dan bandel," kata sumber Tribunnews.com seorang pejabat pemerintah Jepang, Jumat (27/3/2020).

Data korban terinveksi Covid-19 di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya) per 25 Maret 2020.
Data korban terinveksi Covid-19 di daerah Kanto (Tokyo dan sekitarnya) per 25 Maret 2020. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Tagar twitter tersebut dengan nama Covidiot adalah singkatan dari Corona dan Idiot (bandel atau bodoh) sehingga disatukan menjadi sindiran terhadap orang yang bodoh atau bandel tak mau mengikuti antisipasi terhadap Corona yang telah digariskan pemerintah Jepang.

Seorang pengguna twitter dengan nama Yayoi Kisaragi dan harukaze-chan mengungkapkan, "Orang Tokyo bandel-bandel atau bodoh (idiot) ya!"

Ada pula yang kesal, Asamin menuliskan, "Kebingungan dan frustrasi tampaknya identik dengan orang bodoh yang melakukan kejahatan dan pelecehan. Apa maksudmu Ingin menonjol? Apakah kamu hebat? Meski begitu, tidak ada masker atau alkohol yang akan keluar. ya polisi."

Dengan berbagai curhatan, sentilan bahkan kata-kata kasar di tag Covidiot tersebut bahkan berupa gambar film ilustrasi, diharapkan warga Jepang khususnya warga Tokyo menjadi tersindir dan jadi malu sehingga tidak akan melakukan lagi.

Seminggu lalu kemacetan di jalan raya di Tokyo sudah terjadi, kerumunan orang banyak saat hanami dilakukan banyak orang, tontonan K-1 di Stadiun Saitama, pesta, sajian club malam dengan idola yang baru naik (chikaaidoru) dan berbagai kumpulan massa muncul di tengah Kota Tokyo.

Akibat kerumunan orang tersebut, ratusan bahkan ribuan saat di stadiun Saitama, paparan virus Corona semakin menjadi-jadi dan yang terinfeksi melonjak dari 17 orang menjadi 41 orang per 25 Maret lalu.

Festival terkenal Hakata Dontaku tahun 2019 yang sangat ramai. Mei 2020 ini festival dibatalkan antisipasi virus Corona.
Festival terkenal Hakata Dontaku tahun 2019 yang sangat ramai. Mei 2020 ini festival dibatalkan antisipasi virus Corona. (NHK)

Gubernur Tokyo Yuriko Koike langsung mengambil langkah Siaga Satu 25 Maret malam dan keesokan harinya akan bicara teleconference dengan empat Gubernur tetangga yaitu Chiba, Saitama, Kanagawa dan Yamanashi.

Isi pembicaraan mengenai ajakan Koike agar di daerah masing-masing jangan ada kegiatan pengumpulan massa, semua di rumah, kalau bisa jangan berpindah ke tempat yang banyak terinfeksi virus Corona dan ajakan antisipasi penanggulangan Covid-19 lebih lanjut.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved