Minggu, 3 Mei 2026

Virus Corona

Kalangan Sopir Taksi dan Klub Malam di Tokyo Jepang Paling Terdampak Covid-19

Pandemi corona berdampak pada bisnis di Jepang, terutama dirasakan kalangan taksi dan klub malam di Tokyo.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Rute taksi yang sangat panjang, pertama kali dalam sejarah Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pandemi corona berdampak pada bisnis di Jepang, terutama dirasakan kalangan taksi dan klub malam di Tokyo.

"Seumur hidup saya jadi sopir taksi mungkin sekitar 30 tahunan lebih, belum pernah parah seperti ini, sulit sekali cari penumpang," ungkap Musashiyama, seorang sopir taksi Tokyo kepada Tribunnews.com, Minggu (29/3/2020) malam di Shibuya.

Antrean taksi menunggu penumpang sangat panjang dari mulai depan Stasiun Shibuya (depan Bank of Mitsubishi UFJ), sampai ke Hachiko Crossing, masih lanjut ke seberangnya dengan panjang dipastikan lebih dari satu kilometer, antrean taksi seolah tak bergerak.

Baca: Keputusan Jabodetabok Lockdown Dibahas Hari Ini, Anies Baswedan Sebelumnya Kirim Surat ke Presiden

Baca: Italia akan Perpanjang Masa Lockdown, Ketika Kasus Corona mendekati 100 Ribu

Belum lagi antrean taksi yang berada di kanan kiri gedung 109 yang terkenal di Shibuya juga antrean panjang dapat mudah dijumpai.

Sementara jumlah orang lalu lalang sangat sedikit di Hachiko Crossing yang terkenal sebagai tempat penyeberangan paling padat di dunia.

"Saya perkirakan mungkin masalah pandemi ini sedikitnya 6 bulan ke depan masih sama. Sangat kibishi (berat) ya kalau begini terus. Tak pernah dalam sejarah kita dalam keadaan seperti ini di Jepang," kata dia.

Tempat paling ramai di Tokyo adalah Shibuya.

Para chika idol (artis musisi muda yang baru muncul) live di Shibuya.
Para chika idol (artis musisi muda yang baru muncul) live di Shibuya. (Foto TBS/Richard Susilo)

"Karena paling ramai itulah sopir taksi banyak yang ke sini karena pasti dapat penumpang. Kini keadaannya berbalik 180 persen. Itulah sebabnya antrean taksi sangat panjang," ujarnya.

Musashiyama mengatakan jika kondisi ini berlangsung terus sampai 6 bulan, maka dia akan mengalami kesulitan.

Keprihatinan serupa juga dihadapi pemilik klub malam artis chika aidol (artis musisi muda yang baru muncul) live di Shibuya akhir minggu lalu.

"Saya kira pasti sepi yang datang. Tak sangka ternyata ada puluhan tamu yang datang lihat chika aidol," kata Takayama, seorang pemuda Jepang kepada Tribunnews.com, Sabtu(28/3/2020) di Shibuya.

Dia menduga hal itu sudah jadi style anak muda Jepang yang tak mau dikekang atau disuruh berdiam diri di rumah.

Tak hanya di Bandara Haneda, Bandara Narita Jepang juga terlihat lengang, Minggu (29/3/2020).
Tak hanya di Bandara Haneda, Bandara Narita Jepang juga terlihat lengang, Minggu (29/3/2020). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

"Saya terus terang takut juga terkena Covid-19. Tapi kalau sudah masuk ke klub itu terbawa arus kegembiraan, ya sudah lupa semuanya. Saya khawator kemungkinan saya terpapar virus," kata dia.

Sementara owner klub malam yang tak mau dituliskan namanya, menyatakan sangat prihatin dengan kondisi saat ini.

"Bagaimana kita mau hidup kalau tak ada income? Penghasilan kami hanya dari penyelenggaraan live chika aidol seperti ini," paparnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved