Virus Corona

Profesor Jepang Buat Antibodi Artifisial yang Menghalangi Virus Corona dari Pengikatan Sel

Kelompok penelitian seperti Universitas Kitasato telah mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan antibodi artifisial yang menghalangi virus corona.

Foto NHK
Profesor Kazuhiko Katayama dari Universitas Kitasato 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Profesor Kazuhiko Katayama dari Universitas Kitasato Jepang membuat antibodi artifisial yang menghalangi virus corona dari pengikatan sel dan dapat mencegah infeksi nantinya.

"Ini adalah pendekatan baru untuk membuat obat dengan antibodi, tetapi jika dapat digunakan secara praktis, opsi untuk perawatan akan diperluas di masa depan. Oleh karena itu saya ingin bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk memulai penelitian dan pengembangan untuk aplikasi praktis seperti eksperimen pada hewan," ungkap Profesor Kazuhiko Katayama, Jumat (8/5/2020).

Kelompok-kelompok penelitian seperti Universitas Kitasato telah mengumumkan bahwa mereka telah menciptakan antibodi artifisial yang menghalangi virus corona baru dari pengikatan sel dan mencegah infeksi.

Hal tersebut memiliki aplikasi potensial dalam pengembangan agen terapi baru.

Ketika terinfeksi oleh virus, beberapa jenis protein yang disebut "antibodi" diproduksi di dalam tubuh.

Dari jumlah tersebut, "antibodi penawar" mengikat virus dan dengan demikian mencegah virus dari mengikat ke permukaan sel manusia.

Karena virus corona menjadi tak bisa mengikat ke permukaan sel manusia, maka dapat mencegah terjadinya infeksi.

Baca: Anggota DPR: Percayakan Saja Penyaluran Bansos ke Kepala Desa, Jangan ke Yang Lain

Sekelompok peneliti Profesor Kazuhiko Katayama dan lainnya di Universitas Kitasato menganalisis protein pada permukaan coronavirus baru dan menganalisis informasi tentang gen yang diperlukan untuk mengikat virus corona tersebut.

"Berdasarkan informasi ini, kami secara artifisial menciptakan antibodi penawar yang mengikat virus," ujarnya.

Sekelompok peneliti memeriksa apakah antibodi penetral yang diproduksi berfungsi secara efektif dapat mencegah infeksi.

Ketika antibodi penetralisasi tidak ditambahkan, sebagian besar sel terinfeksi oleh virus dan mati. Ini berarti bahwa ketika antibodi artifisial Jepang ditambahkan, hampir tidak ada infeksi.

Kelompok penelitian mengatakan bahwa itu dapat diterapkan pada pengembangan agen terapeutik baru, serta "tes antibodi" untuk memeriksa apakah mereka telah terinfeksi.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved