Rabu, 7 Januari 2026

10 Pemimpin Dunia yang Digulingkan AS Sepanjang Sejarah: Saddam Hussein hingga Muammar Gaddafi

Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dengan alasan keamanan, demokrasi, dan stabilitas regional.

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Endra Kurniawan
Departemen Pertahanan AS
INVASI AMERIKA - Foto yang dirilis Departemen Pertahanan AS, memperlihatkan patung Saddam Hussein roboh di Lapangan Firdos, Baghdad, pada 9 April 2003. Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dengan alasan keamanan, demokrasi, dan stabilitas regional, Saddam Hussein dari Irak adalah salah satu contohnya. 

Ringkasan Berita:
  • Amerika Serikat tercatat berulang kali terlibat dalam penggulingan pemimpin dunia, dari Iran, Guatemala, Irak, Vietnam Selatan, hingga Libya, dengan alasan keamanan nasional, demokrasi, dan stabilitas regional.
  • Kudeta yang didukung AS sering menyingkirkan pemimpin terpilih atau diktator yang dianggap mengancam kepentingannya
  • Meski banyak operasi berhasil, tidak semua upaya sukses


TRIBUNNEWS.COM – Sejarah politik mencatat bahwa Amerika Serikat kerap terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam pergantian rezim di berbagai negara dengan dalih keamanan nasional, demokrasi, hingga stabilitas regional.

Venezuela, yang presidennya Nicolás Maduro ditangkap pada Sabtu (3/1/2026), bukanlah “target” pertama Amerika Serikat.

Sebelumnya, AS tercatat pernah berperan dalam kejatuhan sejumlah pemimpin dunia yang dianggap mengancam kepentingannya.

Berikut deretan pemimpin dunia yang digulingkan AS sepanjang sejarah, seperti dilansir Newsweek.

1. Mohammad Mossaddegh — Iran (1953)

Pada 19 Agustus 1953, badan intelijen Amerika Serikat, CIA, bersama Inggris, mengatur kudeta untuk menggulingkan Perdana Menteri Iran Mohammad Mossadegh dari kekuasaan.

Kudeta tersebut bertujuan memperkuat kekuasaan Raja (Shah) Mohammad Reza Pahlavi.

AS dan Inggris melabeli Mossadegh sebagai seorang diktator, padahal ia dipilih secara demokratis oleh rakyat Iran.

Mossadegh baru saja menasionalisasi industri minyak yang sebelumnya dioperasikan oleh perusahaan-perusahaan Inggris.

Nasionalisasi industri minyak berarti pemerintah mengambil alih kepemilikan dan pengelolaan sektor minyak dari pihak swasta atau asing, lalu menjadikannya milik negara.

Kudeta tersebut, yang memulihkan pemerintahan otoriter Reza Pahlavi, secara luas dipandang sebagai upaya melindungi kepentingan industri minyak Inggris di kawasan tersebut.

2. Jacobo Arbenz — Guatemala (1954)

Pada Juni 1954, Presiden Guatemala yang terpilih secara demokratis, Jacobo Arbenz, digulingkan dalam operasi yang didukung CIA.

Arbenz disingkirkan karena kebijakan-kebijakannya yang condong ke kiri, yang memicu kekhawatiran pejabat AS di tengah ketegangan Perang Dingin.

Kudeta tersebut menempatkan diktator militer Carlos Castillo Armas sebagai penguasa baru dan memicu kekerasan politik selama beberapa dekade di negara tersebut.

Baca juga: Serang Venezuela, Donald Trump Incar Bisnis Narkoba, Minyak, dan China

Dalam siaran radio pada Juli tahun yang sama, Arbenz berkata mengenai kudeta itu:

“Mereka telah menggunakan dalih antikomunisme. Kebenarannya sangat berbeda. Kebenarannya terletak pada kepentingan finansial perusahaan buah dan monopoli AS lainnya yang telah menginvestasikan sejumlah besar uang di Amerika Latin dan takut bahwa contoh Guatemala akan diikuti oleh negara-negara Amerika Latin lainnya.”

3. Abdul-Karim Qasim — Irak (1963)

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved