1.500 Pengacara Jepang Menentang Perubahan UU Perpanjangan Usia Jaksa

Kaido sangat menyayangkan adanya upaya mngrubah UU tersebut yang membuat kehancuran dinding pemisah antara Legislatif, Eksekutif dan Judikatif.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Gedung Federasi Pengacara Jepang di Kasumigaseki. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebanyak 1.500 pengacara Jepang menentang perubahan UU yang memungkinkan perpanjangan usia pensiun jaksa di Jepang.

"Kita seharusnya tidak melanjutkan dengan musyawarah dalam Diet (parlemen) terburu-buru karena efek dari penyebaran virus corona," ungkap Yuichi Kaido, mantan Sekjen Federasi Pengacara Jepang, Jumat (8/5/2020).

Kaido sangat menyayangkan adanya upaya mngrubah UU tersebut yang membuat kehancuran dinding pemisah antara Legislatif, Eksekutif dan Judikatif.

Baca: Di Jepang Belum Ada Kasus Terkonfirmasi Hubungan Antara Penyakit Kawasaki dengan Covid-19

"Sayang sekali perdebatan mengenai RUU yang akan menghancurkan pemisahan ketiga kekuatan telah dimulai sementara pertemuan publik yang besar tidak mungkin karena virus corona. Pertimbangan dalam Diet tidak harus dipercepat mestinya," kata dia.

Revisi UU Kantor Kejaksaan, yang memungkinkan usia pensiun jaksa secara bertahap ditingkatkan menjadi 65 tahun dan bisa diperpanjang hingga maksimal 3 tahun, termasuk RUU untuk menaikkan usia pensiun pegawai negeri nasional dimulai dari tanggal 8 Mei kemarin.

Baca: Belum Ada WNI yang Terkonfirmasi Covid-19 di Afrika Selatan, Botswana, Lesotho dan Eswatini

Mengenai hal ini, sebuah organisasi yang terdiri dari pengacara sukarela yang menentang revisi undang-undang mengadakan konferensi pers online pada tanggal 8 Mei kemarin.

"Amandemen tersebut mempercayakan keputusan jaksa penuntut untuk memperpanjang usia pensiun kepada kabinet dan para menteri, dan netralitas politik penuntutan. Itu mengancam kebebasan dan independensi pengacara selama ini," ujarnya.

Selain itu, terungkap bahwa pengacara yang mendukung kegiatan tersebut mencapai 1.500 orang di Jepang termasuk ketua dan wakil ketua Nichibenren (Federasi Asosiasi Pengacara Jepang) dalam waktu sekitar dua minggu dari akhir April ketika ajakan kepada pengacara lain dilakukan oleh federasi tersebut.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved