Digitalisasi Perbankan, Ribuan Karyawan Bank di Jepang akan di-PHK

Pengurangan biaya telah menjadi masalah di dunia keuangan karena suku bunga rendah yang berkepanjangan. Ditambah lagi dampak Covid-19 saat ini.

Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Kantor SMBC Holdings di Tokyo Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Dengan alasan digitalisasi perbankan, ribuan karyawan bank di Jepang akan di-PHK.

Pengurangan biaya telah menjadi masalah di dunia keuangan karena suku bunga rendah yang berkepanjangan. Ditambah lagi dampak Covid-19 saat ini.

"Bank-bank besar mempercepat upaya untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan personel dengan merampingkan pekerjaan administrasi padat karya melalui digitalisasi," ungkap sumber Tribunnews.com, Minggu (17/5/2020).

Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) bermaksud mengurangi pekerjaan kantor untuk 8.000 orang dengan mendigitalkan dokumen yang dibuat secara langsung di departemen penjualan individu dan perusahaan dan mengganti layanan pelanggan di konter dengan internet banking.

Koichi Miyata, Presiden Sumitomo Mitsui Financial Group  (SMFG)
Koichi Miyata, Presiden Sumitomo Mitsui Financial Group (SMFG) (Foto Yomiuri)

Perusahaan akan meningkatkan jumlah karyawan dalam bisnis yang bertujuan untuk memperkuat layanan baru menggunakan TI, sambil mengurangi jumlah karyawan dari seluruh kelompok 103.000 karyawan dengan tidak menambah orang yang akan pensiun.

Sementara 6.000 orang di antaranya dalam tiga tahun ke depan, akan di-PHK kan.

"Dengan pengurangan jumlah karyawan tersebut diperkirakan dapat mengurangi biaya hingga 100 miliar yen," ujarnya.

Baca: Suka Nonton Drakor, Tapi Sissy Priscilla Ogah Nonton The World Of Married, Mengapa?

Resona Holdings, bank keempat terbesar di Jepang, juga merencanakan untuk mengurangi jumlah karyawan dari 31.800 orang, sebanyak 3.100 orang akan di-PHK dalam kurun waktu tiga tahun ke depan sebagai akibat dari digitalisasi yang berpusat pada operasi penghitung bank.

Bank-bank besar, yang memiliki sejumlah besar karyawan, telah bekerja untuk mengurangi biaya mereka selama beberapa tahun terakhir karena suku bunga rendah yang berkepanjangan dan persaingan dari perusahaan IT yang memasuki bidang keuangan.

Baca: Anies Baswedan: Masjid Harus Lakukan Transformasi Dakwah Melalui Infrastruktur Digital

Prospek ekonomi juga menjadi lebih tidak pasti karena penyebaran virus corona baru, ada kemungkinan bahwa pengurangan lebih lanjut akan menyebar lebih luas lagi di Jepang di berbagai bidang khususnya finansial.

Diskusi mengenai Jepang dalam WAG Pecinta Jepang terbuka bagi siapa pun. Kirimkan email dengan nama jelas dan alamat serta nomor whatsapp ke: info@jepang.com

Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved