Senin, 27 April 2026

Joe Biden Sebut Donald Trump Orang Bodoh, Ini Alasannya

Biden menyebut, perilaku Trump sebagai sebuah tindakan maskulin palsu yang mengorbankan nyawa orang

Twitter @Jordanfabian
Donald Trump Mengunjungi Pabrik Peralatan Medis Tanpa Mengenakan Masker 

TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Calon presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, menyebut saingannya dari Partai
Republik, Donald Trump, sebagai orang yang sangat bodoh karena tidak mengenakan masker pada
serangkaian acara publik baru-baru ini.

Ia mengatakan kurangnya kepemimpinan dalam masalah virus corona atau Covid-19 adalah tindakan mengorbankan
nyawa masyarakat.

Baca: Lebih dari 62.000 Tenaga Kesehatan di Amerika Serikat Terinfeksi Virus Corona Covid-19

Keputusan apakah akan mengenakan masker di tempat umum memicu pertarungan
politik nasional.

Dua kandidat presiden mengadopsi pendekatan yang sangat berbeda mengenai
penggunaan masker.

Keputusan Biden untuk mengenakan masker di tempat umum menarik perhatian Donald Trump.

Trump menolak mengenakan masker di depan kamera di sejumlah acara publik.

"Dia bodoh, benar-benar bodoh untuk berbicara seperti itu. Setiap dokter terkemuka di dunia
mengatakan kamu harus mengenakan masker di tengah orang banyak," kata Biden dalam wawancara
dengan CNN.

Biden menyebut, perilaku Trump sebagai sebuah tindakan maskulin palsu yang mengorbankan nyawa
orang.

Trump mengatakan sangat tidak biasa Biden mengenakan masker karena dia berada di luar
dalam cuaca yang baik.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS merekomendasikan memakai masker kain di tempat
publik.

Pedoman itu tidak menyarankan memakai masker di rumah.

Presiden Donald Trump, tanpa menggunakan masker, mengunjungi pusat distribusi masker di
Pennsylvania pada Kamis (14/5/2020) dan mengumumkan rencana untuk mengisi kembali persediaan
peralatan medis Amerika Serikat yang terkuras oleh wabah virus corona.

Para pejabat perusahaan distribusi tersebut tampak mendampingi Trump, mengenakan masker.

Trump, tokoh Republik yang berusaha terpilih kembali dalam pemilihan presiden pada November, menolak
mengenakan masker wajah di publik meskipun pemerintahnya memberi arahan kepada warga AS untuk
mengenakan masker.

Peraturan Gedung Putih yang baru juga mengharuskan staf mengenakannya di tempat kerja.

Presiden mengunjungi pusat distribusi Owens & Minor Inc, yang oleh Gedung Putih dikatakan telah mengirim
jutaan masker N95, pakaian pelindung dan sarung tangan, ke rumah sakit serta pusat operasi di seluruh
Amerika Serikat.

Minggu lalu, Trump juga tidak mengenakan masker saat mengunjungi pabrik pembuatan masker di
Arizona, sekalipun ia mengaku mencoba beberapa di ruangan lain yang ia lewati.

Pennsylvania adalah negara bagian yang diperebutkan secara politis oleh calon Republik dan Demokrat dalam pemilihan
presiden.

Baca: China dan AS Sama-sama Kerahkan Kapal Perang ke LCS, Dikhawatirkan Picu Perang Dunia III

Meskipun acara pada Kamis diatur oleh Gedung Putih, acara tersebut memiliki nuansa kampanye,
dilengkapi musik yang mirip dengan yang diputar di kampanye Trump.

Trump menuduh pemerintah Obama –Joe Biden merupakan Wakil Presiden di era Obama -- membiarkan persediaan alat-alat pelindung habis.

Episentrum Baru

Ilustrasi warga Amerika Serikat ke pantai.
Ilustrasi warga Amerika Serikat ke pantai. (AFP)

Baca: Hong Kong-China Memanas, Trump Bakal Beri Respons dalam Waktu Dekat

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Benua Amerika muncul sebagai episentrum baru pandemi
Covid-19.

"Kini bukan saatnya untuk negara-negara untuk melonggarkan pembatasan" kata Carissa

Etienne, Direktur WHO untuk Amerika sekaligus kepala Organisasi Kesehatan Pan Amerika (PAHO)
melalui konferensi video.

Amerika mencatat lebih dari 2,4 juta kasus virus corona baru dengan lebih dari 143 ribu kematian akibat
penyakit pernapasan Covid-19.

Amerika Latin melampaui Eropa dan Amerika Serikat dalam infeksi harian.

"Kawasan kami menjadi episentrum pandemi Covid-19," kata Etienne.

Baca: Kabar Liga Inggris: Empat Orang dari Tiga Klub Dinyatakan Positif Corona

Yang juga menjadi kekhawatiran pejabat WHO adalah percepatan wabah di Peru, Chile, El Salvador, Guatemala, dan Nikaragua.

Saat tingkat kematian harian Brasil menjadi yang tertinggi di dunia pada Senin (25/5/2020), studi Universitas
Washington memperingatkan total kematian negara tersebut bisa melonjak lima kali lipat menjadi 125
ribu hingga awal Agustus. (cnn/rtr/feb)

Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved