Kamis, 14 Mei 2026

Virus Corona

GDP Jepang April-Juni 2020 Diprediksi Minus 20 Persen

Sudah mencapai minus 3,5 persen, untuk perhitungan sampai dengan akhir Juni 2020 mendatang, ahli ekonomi memperkirakan bisa minus 20 persen.

Tayang:
Editor: Dewi Agustina
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Suasana persimpangan Hachiko Shibuya Tokyo Jepang, Jumat (29/5/2020) kembali ramai. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Gross Domestic Product (GDP) Jepang untuk April - Juni 2020 diperkirakan bakal minus 20 persen karena perekonomian tak bisa berjalan dengan mulus akibat pandemi corona.

"GDP Jepang diperkirakan bisa mencapai minus 20 persen nantinya per 1 Juli 2020 karena benar-benar parah perekonomian kali ini akibat pandemi corona," papar sumber Tribunnews.com dari sebuah lembaga penelitian ekonomi Jepang yang tak mau disebutkan jati dirinya, Sabtu (30/5/2020).

"Bukan hanya perekonomian dalam negeri yang tidak bisa berputar mulus, juga terkait perdagangan ke luar negeri dan di luar negeri pun, misalnya di AS, juga semakin menurun drastis perekonomiannya. Tak ada daerah yang memiliki perekonomian baik saat ini," jelasnya.

Suasana persimpangan Hachiko Shibuya Tokyo Jepang, Jumat (29/5/2020) kembali ramai.
Suasana persimpangan Hachiko Shibuya Tokyo Jepang, Jumat (29/5/2020) kembali ramai. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Dari Januari hingga Maret 2020, GDP telah menurun 0,9 persen dibandingkan dengan 3 bulan sebelumnya, atau minus 3,5 persen per 1 April 2020 dalam hal tingkat pertumbuhan tahunan.

Sudah mencapai minus 3,5 persen, untuk perhitungan sampai dengan akhir Juni 2020 mendatang, ahli ekonomi tersebut memperkirakan bisa minus 20 persen.

Baca: Akui Terjangkit Corona, Mantan Pelatih Liverpool Ungkap Rasanya Seperti Mendaki Gunung Kilimanjaro

"Keadaan ekonomi dunia parah dalam waktu dekat ini termasuk Jepang yang harus menguras cadangan keuangannya untuk antisipasi pandemi corona sebagai fokus utama yang memakan ratusan triliun yen bahkan seperempat GDP nasionalnya," ujarnya.

Seperti diumumkan PM Jepang Shinzo Abe 25 Mei lalu, anggaran antisipasi Jepang terkait pandemi corona termasuk untuk mengangkat kembali para pengusaha Jepang, mencapai lebih dari 200 triliun yen yang dianggarkan pada anggaran tambahan pertama dan anggaran tambahan kedua tahun fiskal ini.

Sementara infeksi corona semakin meningkat lagi di Tokyo, dengan korban kemarin bertambah 22 orang.

Kenaikan pertambahan korban terinfeksi berturut setiap hari selama minggu ini sejak Senin lalu.

Jumlah orang yang ke luar sudah mendekati hari normal sebelum pandemi corona.

Baca: Buruh, Driver Ojol Pernah Bernasib Sama dengan Ruslan, Ditangkap karena Hina Presiden Saat Pandemi

Pantauan Tribunnews, daerah persimpangan Hachiko di Shibuya Tokyo sudah mulai dipenuhi warga yang beraktivitas seperti biasanya.

Satu kumpulan terinfeksi sampai sekitar 10 orang sekaligus di satu tempat yaitu terjadi di sebuah rumah sakit di Koganei Tokyo juga terjadi dua hari lalu.

Kebanyakan korban terinfeksi separuhnya terkait dengan dunia malam, night club, bar, daerah prostitusi dan sebagainya.

"Jauhkan kehidupan malam kalau mau tidak terinfeksi corona, salah satu kunci kehidupan kita," papar Dr Kakuta, Jumat (29/5/2020).

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Berita Terkini

© 2026 TribunNews.com, a subsidiary of KG Media. All Right Reserved