Breaking News:

Wabah Siput Murbai Merusak Lahan Pertanian Masyarakat Jepang

Asal usul siput jumbo Tanishi adalah Amerika Latin, dengan panjang total sekitar 5 cm, yang lebih besar dari siput umum yang ada di Jepang.

Foto Pemda Chiba
Siput murbai atau Jumbo Tanishi yang sedang mewabah di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sejumlah besar Jumbo Tanishi (siput murbai), siput eksotis yang memakan tumbuhan padi yang telah tumbuh, menyerang terutama di Jepang barat seperti Chiba, Shizuoka, dan wilayah lainnya.

"Kini semakin merajalela setelah sekitar dua tahun lalu dilaporkan ke Kementerian Pertanian Jepang," papar Uchiyama, seorang petani Chiba kepada Tribunnews.com, Minggu (26/7/2020).

Diperkirakan disebabkan oleh pemanasan global dunia seperti musim dingin yang hangat, dan jika dibiarkan tanpa pengawasan, dapat menyebabkan kerusakan lebih luas lagi di Jepang timur.

Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Jepang berencana untuk membentuk dewan dengan partisipasi pejabat pemerintah daerah dari seluruh perfektur dalam sebulan mendatang untuk menyerukan penghapusan menyeluruh penghambat sawah tersebut.

Sawah di Chiba Jepang yang gundul, korban wabah siput murbai atau Jumbo Tanishi.
Sawah di Chiba Jepang yang gundul, korban wabah siput murbai atau Jumbo Tanishi. (Foto Kementerian pertanian Jepang)

Asal usul siput jumbo Tanishi adalah Amerika Latin, dengan panjang total sekitar 5 cm, yang lebih besar dari siput umum yang ada di Jepang.

Ternyata apa yang dibawa untuk budidaya menjadi liar, yaitu jenis siput yang dulu banyak diimpor dari Taiwan lalu dimakan setelah dipotong dan dijadikan bentuk sate.

Namun saat ini tidak ada permintaan untuk makanan siput.

Meskipun rentan terhadap dingin dan kebanyakan dari mereka mati sebelum akhir musim dingin, banyak yang selamat tahun ini karena musim dingin yang hangat.

Telur siput jumbo Tanishi warna merah muda, ada yang menempel di tembok pagar sawah, namun ada yang menempel bergelantungan di daun padi yang menghijau.

Baca: Suzugamori Execution, Tempat di Mana Tahanan Era Edo Jepang Dihukum Mati

Halaman
12
Editor: Dewi Agustina
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved