Breaking News:

Drone AS yang Bunuh Jenderal Qassem Soleimani Diberi Izin Terbang oleh Otoritas Irak

Jenderal Qassem Soleimani dari Iran, terbunuh di Bandara Internasional Baghdad, Irak. Pembunuhan terjadi atas perintah Presiden AS Donald Trump.

Getty Images
Mayor Jenderal Qassem Soleimani dan Donald Trump 

Bagheri Keny meminta Berlin untuk bekerja sama dengan pengadilan Iran untuk melengkapi file dan memperjelas sikap mendua mereka tentang peristiwa ini, serta dugaan keterlibatan Jerman dalam keseluruhan operasi ini.

Sebagai balasan atas pembunuhan Qassem Soleimani, Korps Pengawal Revolusi Islam Iran meluncurkan beberapa rudal ke pangkalan militer AS di Irak. Serangan presisi itu menghancurkan bangunan dan fasilitas militer lainnya.

Peristiwa ini semakin meningkatkan tensi ketegangan antara AS dan Iran. Kedua negara saling mengancam di kawasan Teluk Persia.

Terbaru, pihak asing membunuh ilmuwan fisika Iran, Mohsen Fakhrizadeh pada 27 November 2020 di dekat Teheran.

Teheran menuduh serangan pembunuhan itu didalangi dan dilakukan agen-agen serta komprador Mossad di Iran.

Otoritas keamanan Iran menyatakan, senjata yang dipakai untuk membunuh Fakhrizadeh dibuat di Israel. Sementara pembunuhan itu tidak meninggalkan jejak manusia di lokasi kejadian.

Tembakan senapan mesin dikontrol dari jarak jauh, yang senjatanya dipasang di sebuah mobil sedan Nissan, yang hancur oleh bom setelah operasi berlangsung.

Ketegangan AS dan Negara-negara Teluk menghadapi Iran kian meningkat ditandai kehadiran dua pengebom strategis B-52.

Dua pesawat raksasa terbang dari pangkalan AS ke Timur Tengah, dalam sebuah langkah yang dianggap sebagai unjuk kekuatan dan gerakan menakut-nakuti Iran.

Komando Pusat AS memastikan kedua pembom tersebut terbang di wilayah tanggung jawabnya, dikawal pesawat “mitra regional” sebagai bagian dari misi kedua selama dua bulan terakhir.

Halaman
123
Editor: Setya Krisna Sumarga
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved